Terungkap, Kelompok Ini Berisiko Terkena Gejala Serius 3 Bulan Usai Kena COVID

ADVERTISEMENT

Terungkap, Kelompok Ini Berisiko Terkena Gejala Serius 3 Bulan Usai Kena COVID

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Kamis, 23 Jun 2022 10:31 WIB
Hospital COVID
Healthcare workers during an intubation procedure to a COVID patient
Gejala COVID-19. (Foto: Getty Images/Tempura)
Jakarta -

Studi baru di Amerika Serikat menunjukkan nyaris satu dari lima orang dewasa memiliki gejala COVID-19 menetap pasca terinfeksi. Artinya, pasien mengalami keluhan gejala secara berkepanjangan.

Satu dari 13 orang dewasa memiliki gejala COVID-19 yang berlangsung selama tiga bulan atau lebih pasca terinfeksi. Kondisi ini juga dikenal dengan long COVID. Keluhan yang dialami antara lain kelelahan, detak jantung cepat, kesulitan kognitif, nyeri kronis, kelainan sensorik, dan kelemahan otot.

Analisis Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) menghimpun data pasien yang terpapar 1-13 Juni, memperlihatkan orang dewasa lebih muda cenderung memiliki gejala persisten dibandingkan orang dewasa dengan usia lebih tua.

Di sisi lain, wanita juga disebut lebih mungkin memiliki gejala long COVID atau gejala berkepanjangan dibandingkan pria, berdasarkan laporan di AS yakni 9,4 persen wanita dewasa mengalami gejala COVID-19 lebih lama dibandingkan pria 5,5 persen.

Survei menemukan hampir 9 persen orang dewasa Hispanik memiliki gejala COVID-19 lebih lama, lebih tinggi daripada orang dewasa kulit putih dan kulit hitam non-Hispanik, dan lebih dari dua kali persentase orang dewasa Asia non-Hispanik.

Sementara studi CDC di November 2021 lalu pada lebih dari 350 ribu penyintas COVID-19, menunjukkan mereka memiliki risiko dua kali lipat mengalami pembekuan darah berbahaya yang mengalir ke paru-paru mereka, dibandingkan seseorang yang tidak pernah terpapar. Para ahli khawatir, efek long COVID bisa berpengaruh pada beban sistem kesehatan hingga ekonomi seseorang.

"Terjadinya kondisi insiden setelah infeksi juga dapat memengaruhi kemampuan pasien untuk berkontribusi pada tenaga kerja dan mungkin memiliki konsekuensi ekonomi bagi penyintas dan tanggungan mereka, serta menambah beban pada sistem kesehatan," sebut para peneliti AS, dikutip dari Channel News Asia.



Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT