Mohon Perhatian, COVID-19 RI Diprediksi 'Ngegas' hingga 2 Bulan

ADVERTISEMENT

Mohon Perhatian, COVID-19 RI Diprediksi 'Ngegas' hingga 2 Bulan

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Kamis, 23 Jun 2022 07:30 WIB
Seorang warga mengikuti rapid tes antigen di Tebet, Jakarta, Selasa (29/12/2020).
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Corona di Indonesia terus merangkak naik, kasus mingguan tercatat meningkat 105 persen, sementara harian COVID-19 per Rabu (22/6) nyaris melampaui 2 ribu yakni berada di 1.985 kasus.

Kasus aktif bahkan menyentuh 11.391, dengan tambahan 1.296 pasien. Menurut ahli epidemiologi Dicky Budiman dari Universitas Griffith Australia, kenaikan kasus COVID-19 di gelombang Omicron BA.4 dan BA.5 terjadi lebih lambat.

Prediksinya, infeksi COVID-19 bakal lebih dulu menyebar di kalangan populasi yang memiliki imunitas, sehingga kemungkinan besar tidak muncul gejala atau gejala COVID-19 yang muncul terbilang ringan.

"Kenaikan COVID-19 ini jelas akan berlangsung ya setidaknya satu dua bulan lah ya, tapi ini berbeda dengan waktu Delta ya, hanya pada kelompok-kelompok yang rawan populasi berisiko tinggi seperti lansia, komorbid, ataupun yang cakupan vaksinasi masih minim itu yang paling berbahaya," beber Dicky kepada detikcom, ditulis Rabu (22/6/2022).

"Dan ini setidaknya kita akan menghadapi masa rawan ya Agustus lah paling tidak, ini berbalik juga pada bagaimana kita memitigasinya," sambung Dicky.

Menurut Dicky, bukan tidak mungkin infeksi COVID-19 yang dilaporkan sebenarnya 10 kali lipat dari angka resmi. Namun, di tengah keterbatasan testing dan banyaknya kelompok yang sudah divaksinasi COVID-19, kasus-kasus tersebut tidak terdeteksi lantaran mayoritas tidak bergejala.

"Sebetulnya sekarang sudah puluhan ribu yang terinfeksi, tapi kan mayoritas tidak bergejala. Kalau jumlah itu kembali ke kemampuan mitigasi dalam testing, yang jelas itu masih jadi PR kan, dan ini tentu ada dampaknya," kata Dicky.

Ia melanjutkan, pemerintah seharusnya kembali melakukan pengetatan dari mulai 3T, testing, tracing dan treatment. Meski tak perlu masif, diharapkan deteksi mewakili gambaran penyebaran di sejumlah wilayah, serta memastikan orang-orang yang terpapar menjalani karantina hingga penularan bisa terus ditekan.

Dicky juga mengimbau penguatan protokol kesehatan COVID-19, lantaran Omicron BA.4 dan BA.5 diyakini menjadi varian paling menular di antara seluruh varian COVID-19 terdahulu. Terlebih, data awal menunjukkan kemampuan kedua varian tersebut lolos dari antibodi pasca vaksinasi.



Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT