Sering Disangka Mirip, Ini Beda Batuk Gejala TBC Vs COVID-19

ADVERTISEMENT

Sering Disangka Mirip, Ini Beda Batuk Gejala TBC Vs COVID-19

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Jumat, 24 Jun 2022 17:05 WIB
COVID-19 Pandemic Coronavirus, Asian woman wearing a mask, have a symptoms coughing and fever
ilustrasi batuk Foto: Getty Images/iStockphoto/ronnachaipark
Jakarta -

Penyakit tuberkulosis (TBC) merupakan masalah kesehatan yang menjadi perhatian seluruh dunia, termasuk Indonesia. Umumnya penyakit ini memiliki gejala yang mirip seperti COVID-19, misalnya batuk. Lalu, bagaimana membedakan keduanya?

Pengelola Program Tuberkulosis (TBC) atau Wakil Supervisor (Wasor) TB Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI, dr Victor menjelaskan bahwa perbedaan TBC dan COVID-19 bisa dilihat dari perjalanan penyebab dan perjalanan penyakitnya. TBC umumnya disebabkan oleh bakteri, sedangkan COVID-19 disebabkan oleh virus. Begitu juga dengan perjalanan penyakit, TBC umumnya bersifat lebih kronis dibandingkan COVID-19.

"Sesuai dengan penyebab penyakitnya, TBC disebabkan oleh bakteri. Sedangkan COVID-19 disebabkan oleh virus. Kemudian untuk perjalanan penyakit, TBC itu sifatnya lebih kronis," tuturnya dalam acara "Sosialisasi Penyakit TBC", Jumat (24/6/2022).

"Jadi pasien berkontak dengan pasien yang tertular, itu bukan dua, tiga, atau lima hari menimbulkan gejala.Tapi lebih ke arah kronis, bisa minimal 2 minggu bahkan berbulan-bulan atau sampai tahunan dia baru menimbulkan gejala," sambungnya lagi.

Penyakit TBC juga memiliki gejala khas yang berbeda dengan COVID-19, seperti berkeringat di malam hari walaupun pengidapnya tidak merasa kepanasan. Selain itu, mengalami gejala berupa batuk dan demam lebih dari dua minggu. Sedangkan batuk COVID-19 biasanya hanya bertahan beberapa hari, termasuk gejala demam.

"Berbeda dengan COVID, pada saat kontak dengan pasien atau tertular COVID, itu dalam hitungan hari dua sampai lima hari bisa saja menimbulkan gejala. Biasanya juga gejala TBC itu disertai gejala khas, seperti keringat pada malam hari. Jadi, dia tidur seperti biasa tidak kepanasan, tapi saat dia bangun pagi bajunya basah tanpa sebab," sambungnya lagi.

"Batuknya lama dari dua minggu tapi tidak kunjung sembuh, beda dengan COVID batuknya baru beberapa hari dan sifat penyakitnya lebih progresif ya kalau misalnya dari segi sifat dari virus. Kalau dia memang memiliki penyakit komorbid atau penyerta lebih intens sesak napas," tutur dr Victor.



Simak Video "Seputar Temuan Virus Mirip Covid-19 pada Kelelawar di China Selatan"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT