ADVERTISEMENT

Sabtu, 25 Jun 2022 09:25 WIB

Epidemiolog Waswas BA.4 dan BA.5 Sama Parah dengan Delta, Ini Biang Keroknya

Vidya Pinandhita - detikHealth
Total jumlah pasien yang terkonfirmasi positif akibat virus corona pada hari ini menjadi 4.667.554 orang. DKI Jakarta jadi penyumbang kasus terbanyak. Epidemiolog menyorot risiko kesamaan gejala subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 dengan varian Delta. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Melihat kenaikan kasus COVID-19 di RI kini, epidemiolog menyorot kesamaan subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 dengan varian Delta yakni biang kerok lonjakan COVID-19 tahun lalu. Di samping banyaknya kabar bahwa tingkat keparahan BA.4 dan BA.5 relatif lebih rendah, epidemiolog menyinggung adanya potensi kesamaan keparahan gejala antara kedua subvarian tersebut dengan Delta. Yakni, imbas adanya kesamaan mutasi L452.

"BA.4 dan BA.5 kenapa harus diwaspadai? Selain membawa mutasi L452 yang sama persis karakternya dengan Delta, yang ini dibuktikan dengan gejala-gejala yang mirip Delta saat ini," terang Dicky Budiman, epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, pada detikcom Senin (20/6/2022).

"Bahkan Di Eropa antara lain Perancis ditemukan keparahannya sudah mirip Delta. Ada sesak, kehilangan penciuman dan rasa, termasuk juga gejala-gejala lainnya seperti kelelahan dan nyeri yang sangat di tenggorokan," imbuhnya.

Lebih lanjut Dicky menerangkan, BA.4 dan BA.5 lebih mudah menginfeksi dan cepat bersirkulasi. Pasalnya, mutasi L452 dalam kedua subvarian ini juga berkombinasi dengan mutasi F486 yang membuat subvarian ini semakin kuat melawan proteksi dari vaksinasi maupun infeksi alamiah. Kondisi ini juga yang membuat subvarian BA.4 dan BA.5 amat bisa mereinfeksi orang-orang yang sudah terpapar COVID-19 sebelumnya.

"Selain itu L452 itu membuat BA.4 dan BA.5 mudah menginfeksi karena mudah terikat dengan reseptor ACE 2 dan itu yang menyebabkan dia sangat cepat bersirkulasinya. Ini yang dikhawatirkan. Dikombinasikan lagi dengan kemampuan L452 ini dengan mutasi F486 yang juga mampu memperkuat penurunan efikasi dari infeksi maupun vaksinasi," jelasnya.

"Kombinasi kedua inilah yang menyebabkan juga kita melihat kemampuan BA.4 dan BA.5 melakukan perusakan atau perbanyakan di jaringan paru akhirnya menimbulkan gejala yang cukup berat di paru itu bisa terjadi. Sama seperti waktu Delta," pungkas Dicky.

Data terakhir pada Jumat (24/6), Indonesia mencatat 2.069 kasus baru COVID-19 dibarengi 998 kasus sembuh dan 5 kasus kematian akibat COVID-19. Sementara itu, Kementerian Kesehatan RI melaporkan kini tercatat terdapat 143 kasus COVID-19 BA.4 dan BA.5 di Indonesia. Di dalamnya, terdapat 38 kasus bergejala, 9 kasus tidak bergejala, dan 96 kasus tidak ada data.



Simak Video "Melihat Lebih Dekat Mutasi di Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Adu Perspektif
×
Menuju Koalisi: Kawin Paksa Vs Sukarela
Menuju Koalisi: Kawin Paksa Vs Sukarela Selengkapnya