ADVERTISEMENT

Minggu, 26 Jun 2022 19:00 WIB

ITAGI Beri Sinyal Vaksin Dosis ke-4, Booster Buat Anak 6-11 Tahun Gimana?

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Program vaksinasi massal di Tangerang terus dilakukan. Vaksinasi COVID-19 kini sasar orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan individu berkebutuhan khusus (IBK). Ilustrasi vaksin COVID-19 (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Ketua Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dr Sri Rezeki Hadinegoro, sempat memberikan sinyal adanya vaksin dosis ke-4 yang kemungkinan nanti akan diberikan. Meskipun demikian, fokus utama untuk saat ini adalah mencapai target vaksinasi primer dosis pertama dan kedua dari keseluruhan total populasi.

"Vaksin yang primer saja belum beres. Kan harus di atas minimal 70 persen dari populasi," kata dr Sri Rezeki dalam webinar, Sabtu (25/6/2022).

"Kalau sudah dibereskan (vaksinasi primer dan booster), mungkin kita perlu booster dosis kedua. Kalau nggak kita bereskan dan langsung menyediakan booster kedua, orang yang belum divaksin tetap tidak vaksin. Sedangkan itu bisa jadi sumber mutasi," jelasnya

Lantas, bagaimana dengan vaksin booster untuk anak?

dr Sri menjelaskan, sampai saat ini vaksin booster untuk anak usia 6 sampai 11 tahun masih dalam tahap kajian, termasuk kebutuhan logistik hingga penggunaan jenis vaksin yang digunakan. Pasalnya, banyak kasus anak yang mengidap COVID-19 disertai dengan gejala berat, sehingga vaksin booster kemungkinan diperlukan untuk mencegahnya.

"Ini masih dalam kajian kita ya. Kan 12-18 kan sudah di-booster, sekarang yang ditanyakan 6 sampai 11 yang belum di-booster. Jadi kita sedang mengkaji hal ini karena ini juga berhubungan dengan vaksin-vaksin yang harus diberikan. Mau pakai vaksin apa, kebutuhannya berapa, logistiknya bagaimana, apakah booster kalau pemerintah tidak cukup atau perlu berbayar dan segala macam harus dipikirkan," tuturnya.

"Tapi kalau kita melihat bahwa anak-anak pun bisa mengidap COVID dan juga berat (gejalanya), itu memang ada kemungkinan harus kita booster. Tapi bagaimana mungkin yang pertama anak-anak ini dengan kelainan-kelainan atau komorbid," sambungnya lagi.

Adapun kematian COVID-19 pada anak-anak paling banyak adalah mereka yang memiliki penyakit bawaan, seperti jantung, kanker, hingga cacat bawaan dari lahir. Oleh karenanya, jika vaksin booster untuk anak nantinya diperbolehkan, kemungkinan akan dipilah terlebih dahulu siapa yang akan didahulukan.

"Kalau kita lihat kematian pada anak-anak, itu adalah yang mereka punya jantung pada umumnya yang keganasan, jadi punya kanker, leukemia, limfoma, atau apapun itu kena itu jadi berat sekali," tutur dr Sri.

"Kemudian juga yang mempunyai cacat bawaan, misalnya jantungnya cacat bawaan. Jadi dari lahir jantungnya sudah bocor, itu risiko tinggi. Jadi mungkin nanti akan kita pilah untuk booster ini siapa yang didahulukan terlebih dahulu, dengan anak-anak dengan ketentuan-ketentuan kelemahan dengan imunitas," pungkasnya.



Simak Video "Kemenkes Soal Sekolah Tatap Muka: Masih Aman Sesuai Prosedur"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Adu Perspektif
×
Menuju Koalisi: Kawin Paksa Vs Sukarela
Menuju Koalisi: Kawin Paksa Vs Sukarela Selengkapnya