ADVERTISEMENT

Rabu, 29 Jun 2022 14:31 WIB

Peneliti Ungkap Tanda Infeksi Parah Akibat COVID-19 Lewat Dahak!

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/oonal
Jakarta -

Sebuah studi menganalisis kekentalan dahak dari paru-paru pasien COVID-19 yang parah secara mendalam. Dari temuan tersebut, terungkap satu karakteristik dahak atau lendir yang mungkin menjadi kunci utama dari infeksi COVID-19 yang lama dan parah.

Menurut temuan yang dipublikasikan jurnal JCI Insight, ditemukan tiga zat berserat panjang pada dahak yang membuat pasien COVID-19 membutuhkan ventilasi. Studi yang dilakukan para peneliti di University of Stanford ini menemukan zat-zat yang terjerat dalam dahak pasien COVID-19 yang menggunakan ventilator.

Sampel dahak yang digunakan dalam studi telah dikumpulkan pada hari saat pasien dirawat di unit perawatan intensif. Dahak dikeluarkan menggunakan alat penghisap dari paru-paru 17 pasien yang telah setuju terlibat dalam studi tersebut.

Zat-zat ini tampaknya yang mungkin berkontribusi pada pengentalan dahak, sehingga membuat pasien sulit untuk batuk. Hal ini juga membuat dahak menolak pertukaran oksigen yang meningkatkan risiko peradangan dan penumpukan cairan.

Para peneliti juga memperkirakan bahwa salah satu dari zat tersebut mungkin menjadi kunci dari penyebab long COVID yang terjadi pada pasien COVID-19.

"Sekresi pernapasan yang kental dan bergetah adalah inti dari COVID-19 yang parah," kata profesor penyakit menular dan mikrobiologi dan imunologi, Paul Bollyky, dikutip dari Express UK, Rabu (29/6/2022).

"Sementara puluhan ribu penelitian telah menganalisis sampel darah pasien COVID-19. Tetapi, orang belum terlalu memperhatikan sampel dahak pasien COVID-19 yang sakit parah, mungkin karena mereka (sampel dahak) sangat sulit didapat," jelasnya.

Terlebih lagi, dahak ini sulit untuk dihilangkan sehingga akan berkembang menjadi batuk kering.

Menurut platform kesehatan Medical Express, ketiga zat yang ada dalam dahak pasien COVID-19 yang parah bersifat higroskopis. Sifat inilah yang membuat dahak menyerap air, seperti spons, menggumpal seperti agar-agar, mengganggu pertukaran oksigen, dan mengentalkan dahak.

"Kami sengaja menganalisis dahak pasien ini untuk mencari tahu awal mula terbentuknya dan bagaimana dahak itu mempengaruhi respons imun," ungkap Prof Paul Bollyky.



Simak Video "Kasus Harian Covid-19 Jepang Tembus 100.000"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Adu Perspektif
×
Menuju Koalisi: Kawin Paksa Vs Sukarela
Menuju Koalisi: Kawin Paksa Vs Sukarela Selengkapnya