ADVERTISEMENT

Rabu, 29 Jun 2022 17:46 WIB

Apakah Jengkol Menyebabkan Kolesterol Tinggi? Begini Faktanya Menurut Dokter

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Semur jengkol or jengkol stew is indonesian traditional food menu Apakah jengkol menyebabkan kolesterol tinggi? (Foto: Getty Images/iStockphoto/ahmad wahyu)
Jakarta -

Apakah jengkol menyebabkan kolesterol tinggi? Mengingat makanan satu ini kerap kali digemari oleh masyarakat di Indonesia. Bahkan, banyak juga yang mengkonsumsi jengkol dengan tambahan nasi putih dan sambal.

Meskipun demikian, banyak juga yang ogah menyantap jengkol lantaran mitos yang menyebut jengkol menyebabkan kolesterol. Padahal, mitos tersebut salah loh. Dokter ahli gizi masyarakat sekaligus pendiri Dr Tan & Remanlay Institute, Dr dr Tan Shot Yen, M Hum, menjelaskan bahwa jengkol tidak menyebabkan kolesterol tinggi.

Menurutnya, kolesterol secara alami diproduksi oleh hati di dalam tubuh sekitar 80 persen, sedangkan 20 persen lainnya dipicu oleh makanan yang berasal dari hewani, seperti daging.

"Yang bisa bikin kolesterol hanya hewan dan manusia," tuturnya saat dihubungi detikcom, Rabu (29/6/2022).

"80 persen kolesterol manusia dibuat oleh hatinya sendiri. Dan hanya 20 persen dari makanan, " imbuhnya lagi.

Meski tidak menyebabkan kolesterol tinggi, dr Tan mengingatkan bahwa jengkol berisiko menjadi kristal jengkolat yang bisa menyebabkan gagal ginjal apabila dikonsumsi secara berlebihan. Begitu juga bisa menjadi masalah apabila diolah dengan cara yang kurang sehat, seperti digoreng, disemur dengan banyak kecap, dan sebagainya.

"Beda dengan jengkol, yang berisiko menjadi kristal jengkolat bisa mengakibatkan gagal ginjal," ucapnya lagi.

"Yang bikin masalah justru nambah-nambah nasi, kerupuk dan sebagainya. Atau diolah dengan kurang sehat, seperti digoreng, disemur dengan banyak kecap dan sebagainya," sambung dr Tan.

Berapa Batas Wajar Konsumsi Jengkol?

dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, ahli pencernaan dari RS Cipto Mangunkusumo, beberapa waktu lalu menjelaskan mengkonsumsi jengkol sebaiknya cukup satu sampai tiga saja dan jangan berlebihan.

"Satu, dua, atau tiga saja. Sesekali boleh," jawab dr Ari.

Menurut dr Ari, reaksi setiap orang berbeda-beda tergantung pada sensitivitas seseorang terhadap asam jengkolat yang terkandung di dalam jengkol. Tetapi, ia tetap menyarankan untuk tidak terlalu banyak mengkonsumsinya. Terlebih pada orang yang memiliki gangguan pada ginjal sebelumnya.

"Bagi yang sudah ada gangguan, ya harus lebih berhati-hati," tutupnya.



Simak Video "Ini Cara Sehat Olah Daging Kambing "
[Gambas:Video 20detik]
(suc/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT