ADVERTISEMENT

Kamis, 30 Jun 2022 15:30 WIB

ROUND UP

Menkes Upayakan Riset Ganja Medis, Ilmuwan RI Bilang Begini

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
BURIRAM, THAILAND - JUNE 10: A man dressed in a marijuana suit stands with mature marijuana plants at a marijuana legalization expo on June 10, 2022 in Buriram, Thailand. Today the Thai government gave out 1,000 cannabis plants to people in Buriram, a province in eastern Thailand, at its Marijuana legalization kick-off event called “Unlock Marijuana”. On June 9, 2022 Thailand officially decriminalized marijuana cultivation and possession and the government plans to give away 1 million cannabis plants for fee to people throughout the country. The expo in Buriram was focused on educating the public about the uses of marijuana for medicine and food and had informational booths about growing procedures and technology. (Photo by Lauren DeCicca/Getty Images) Menkes upayakan riset ganja medis, ilmuwan RI bilang begini. Foto: Getty Images/Lauren DeCicca
Jakarta -

Wacana legalisasi ganja untuk penggunaan medis kembali mencuat di Tanah Air. Sejumlah pihak, mulai dari anggota DPR hingga Wakil Presiden RI, KH Ma'ruf Amin, merespons wacana legalisasi ganja medis dan mendorong adanya kajian tentang ganja medis untuk pengobatan.

Menanggapi wacana ini, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah sedang mengkaji untuk membuka akses penelitian terkait penggunaan ganja medis.

"Ganja sebentar lagi akan keluar regulasinya untuk research, bahwa dimanfaatkan untuk research," beber Budi saat berbincang dengan wartawan di Gedung Kemenkes, Jakarta Selatan, Rabu (29/6/2022).

Dalam kesempatan tersebut, Budi juga mengaitkan antara fungsi ganja dan morfin. Seperti yang diketahui, morfin masuk dalam golongan opium atau narkotik namun bisa digunakan untuk keperluan medis.

Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), dr Inggrid Tania, mengingatkan untuk mengkaji regulasi legalitas ganja medis secara ketat. Menurutnya ada dua risiko masalah yang berpeluang muncul, yaitu penyelundupan tanaman ganja dan penyalahgunaan ganja untuk tujuan rekreasi.

"Itu memang regulasinya harus seketat mungkin, jangan sampai ada peluang ganja digunakan untuk rekreasional. Agak sulit memang, karena perlu didahului oleh riset. Jadi kan harus ditanam dulu, apalagi jika produk yang memang ingin dihasilkan asli dari Indonesia. Sehingga misal dihasilkan produk ganja medis asli indonesia, jadi kan harus dimulai dari penanaman," jelas dr Inggrid pada detikcom, Rabu (29/6).

dr Inggrid meminta pemerintah untuk menutup peluang penyalahgunaan ganja dengan terus mengawasi jalannya regulasi di lapangan.

Apa Itu Ganja Medis?

dr Inggrid Tania menjelaskan ganja medis digunakan dengan memanfaatkan kandungan cannabidiol (CBD) dan mereduksi atau menghilangkan delta-9 tetrahydrocannabinol (THC) dalam ganja yang bisa menyebabkan seseorang mabuk dan kecanduan.

"Yang dipakai untuk medis itu kandungan CBD-nya, dengan meminimalisir atau menghilangkan kandungan THC. Karena THC itu zat dalam ganja yang bisa bikin kecanduan, adiksi, atau 'fly' jadi tentu ini dihilangkan atau diminimalkan," ujarnya.

"Jadi ganja medis kita menyebutnya 'hem' ya, jadi biji diambil lalu diekstraksi CBD-nya tadi untuk riset dan penggunaan medis," sambungnya.

Menurut dr Inggrid, proses penelitian ganja medis sebelum digunakan untuk layanan kesehatan harus melewati beberapa tahapan. Tahapan ini difokuskan agar kandung CBD dalam ganja bisa dimanfaatkan untuk pengobatan.

"Nanti kan ditanam dulu, dipanen, pengeringan, ekstraksi, baru isolasi dari senyawa CBD," jelasnya.

NEXT: Ganja Medis Beda dengan Daun Ganja

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Alasan Terkuat MK Tolak Legalisasi Ganja Medis"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Adu Perspektif
×
Menuju Koalisi: Kawin Paksa Vs Sukarela
Menuju Koalisi: Kawin Paksa Vs Sukarela Selengkapnya