ADVERTISEMENT

Senin, 18 Jul 2022 19:36 WIB

Dokter Paru Bawa Kabar Kurang Enak Buat 'Alumni' COVID-19 di RI

Alethea Pricila - detikHealth
Isolation Quarantine Coronavirus Covid 19 Ilustrasi penyintas COVID-19. (Foto: Getty Images/Xesai)
Jakarta -

Long COVID atau Sindrom Pasca COVID-19 diperkenalkan oleh Dr Elisa Perego pada 2020 melalui Twitter miliknya dengan tagar #LongCovid untuk mendeskripsikan gejala kronik yang dialami pasien COVID-19.

Kondisi ini bisa alami oleh siapa saja, tak hanya pasien dengan gejala yang berat tetapi juga 'alumni' pasien dengan gejala COVID-19 ringan. Variasi dari gejala long Covid berbeda-beda mulai dari satu bulan hingga enam bulan.

"Yang menarik juga, variasi dari gejala long COVID ini. Sebagian besar mengalami gejala kurang dari satu bulan, ada yang satu sampai empat bulan, dan bahkan ada yang lebih dari enam bulan," ucap Dr dr Agus Dwi Santoso, Sp. P (K) FISR, FAPSR, Direktur Utama RSUP Persahabatan, pada Konferensi Pers Long COVID-19, Senin (18/7/2022).

Lalu mengapa hal tersebut bisa berbeda?

Ada beberapa faktor yang membuat seseorang berisiko lebih besar terkena Long COVID. Di Indonesia sendiri hanya ada 2 parameter yang paling berpengaruh pada pasien long COVID, seperti:

1. Komorbid

Pengidap komorbid berisiko mengalami long Covid lebih tinggi. Hal ini diungkapkan juga oleh Direktur Utama RSUP Persahabatan, Dr dr Agus Dwi Suntoso "Kalau dia (pasien) memiliki komorbid, maka risiko long COVID-nya akan lebih tinggi," tutur dia.

2. Pneumonia

Selain pasien dengan riwayat penyakit penyerta, orang yang sebelumnya mengalami pneumonia juga lebih banyak ditemukan mengidap gejala COVID-19 berkepanjangan. "Kalau dia (pasien) dirawat ataupun di rumah, ada pneumonia, maka risiko long COVID-nya akan lebih tinggi," jelasnya.



Simak Video "Epidemiolog Tegaskan Sering Terinfeksi Covid-19 Tak Bikin Tubuh Kian Kebal"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT