ADVERTISEMENT

Kamis, 14 Jul 2022 09:35 WIB

66,5 Persen Pasien Corona RI Alami Long COVID, Gejala Terbanyak Menurut Riset

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Hospital COVID
Healthcare workers during an intubation procedure to a COVID patient Ilustrasi pasien long COVID-19. (Foto: Getty Images/Tempura)
Jakarta -

Sejumlah pasien COVID-19 bisa mengalami gejala berkepanjangan atau biasa dikenal dengan long COVID. Pemicunya diyakini akibat sindrom pernapasan akut parah yang berdampak pada banyak organ lain.

Tidak sedikit penyintas COVID-19 yang mengalami sejumlah gejala pasca terpapar. Riset bertajuk 'Clinical characteristics and quality of life of persistent symptoms of COVID-19 syndrome in Indonesia' menunjukkan 66,5 persen dari 385 responden yang dianalisis mengalami keluhan long COVID.

Gejala long COVID yang umum ditemui di penyintas Indonesia meliputi:

  • Kelelahan (29,4 persen)
  • Batuk (15,5 persen)
  • Nyeri otot (11,2 persen).

Risiko long COVID-19 atau gejala yang menetap lebih panjang banyak ditemukan pada usia yang lebih tua, penyakit penyerta, keparahan klinis lebih tinggi, perawatan di rumah sakit, pneumonia, hingga mereka yang membutuhkan terapi oksigen.

Riset tersebut juga menganalisis aspek kualitas hidup pasca terpapar COVID-19, pasien yang mengalami long COVID paling banyak yakni nyeri atau tidak nyaman, kecemasan, atau depresi. Metode penelitian ini dilakukan Januari 2021, pada orang yang sudah sembuh dari COVID-19, terkonfirmasi negatif Corona, dan sudah selesai menjalani masa isolasi minimal 14 hari.

"Prevalensi sindrom persisten atau long COVID-19 di Indonesia cukup tinggi, yang mempengaruhi kualitas hidup survivor COVID-19. Pneumonia merupakan faktor utama yang mempengaruhi kejadian sindrom COVID-19 persisten. Penelitian lebih lanjut dengan ukuran sampel yang lebih besar dan waktu studi yang lebih lama direkomendasikan untuk mengendalikan COVID-19 dan dampaknya terhadap kesehatan dan kualitas hidup penyintas COVID-19," demikian kesimpulan para ahli.

Penelitian ini dilakukan Agus Dwi Susanto, Fathiyah Isbaniah, Irandi Putra Pratomo, Budhi Antariksa, Erlang Samoedro, Muhammad Taufik, Fadlika Harinda, Fariz Nurwidya. Dirilis 3 April 2022, sementara penelitian dilakukan Juli 2021.



Simak Video "Epidemiolog Tegaskan Sering Terinfeksi Covid-19 Tak Bikin Tubuh Kian Kebal"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT