Ruben Onsu belum lama ini mengaku mengidap penyakit empty sella syndrome. Kondisi tersebut membuatnya sampai masuk ke ICU hingga dirawat pada beberapa waktu.
"Kemarin itu aku sudah MRI, jadi ada bercak-bercak putih di bagian otak A, dan yang kedua juga ada Empty Sella Syndrome," kata Ruben, dikutip dari kanal YouTube Trans 7 Official.
"Jadi Empty Sella Syndrome ada beberapa tingkat, ada yang memang dia tidak kuat dalam suhu dingin. Ada juga yang penglihatannya makin lama kayak pakai kontak lens jadi dia nggak bisa lama," lanjutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari laman National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), Sabtu (23/7/2022), empty sella syndrome (ESS) merupakan gangguan mempengaruhi sella tusika, struktur tulang di dasar otak yang mengelilingi dan melindungi kelenjar pituitari (yang berada di dasar otak).
Adapun dua jenis dari penyakit ESS, yaitu primer dan sekunder. ESS primer terjadi ketika cacar anatomi kecil di atas kelenjar pituitari. Kondisi ini emmungkinkan cairan tulang belakang mengisi sebagian atau seluruh sella tursika.
Sedangkan ESS sekunder terjadi berdasarkan hasil dari kemunduran kelenjar pituitari di dalam rongga usai cedera, pembedahan, atau terapi radiasi.
Gejala Empty Sella Syndrome
Penyakit ESS umumnya tak memicu gejala tertentu. Jika gejala tersebut muncul, dapat berupa:
- Sakit kepala
- Tekanan darah tinggi
- Kelelahan
- Impotensi (pada pria)
- Gairah seks rendah
- Tidak ada periode menstruasi atau tidak teratur (pada wanita)
- Infertilitas
NEXT: Penyebab dan kelompok yang rentan terkena
Penyebab Empty Sella Syndrome
Sampai saat ini penyebab pasti dari ESS primer masih belum diketahui. Kemungkinan dikaitkan dengan cacat lahir di diafragma sellae, membran yang menutupi sella tursika.
Beberapa orang dilahirkan dengan robekan kecil di diafragma sellae. Hal ini menyebabkan CSF atau cairan serebrospinal bocor ke sella tursika. Namun, para ahli pun tidak yakin apakah ini penyebab langsung dari empty sella syndrome atau hanya faktor risiko.
Sedangkan ESS Sekunder disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti:
- Trauma kepala
- Infeksi
- Tumor hipofisis
- Terapi radiasi atau pembedahan di area kelenjar pituitari
- Kondisi yang berhubungan dengan otak atau kelenjar pituitari, seperti sindrom sheehan, hipertensi intrakranial, neurosarcoidosis, atau hipofisitis.
Kelompok Rentan Terkena ESS
Menurut National Organization for Rare Disorders, empty sella syndrome empat kali lebih banyak diidap oleh wanita dibandingkan pria. Kebanyakan wanita dengan penyakit tersebut adalah mereka yang lanjut usia dan memiliki penyakit komorbid, seperti obesitas dan tekanan darah tinggi.
Namun, sebagian besar kasus empty sella syndrome tidak terdiagnosis lantaran kurangnya gejala, sehingga sulit untuk menyebut apakah jenis kelamin, usia, ataupun komorbid yang menjadi faktor risiko sebenarnya.











































