ADVERTISEMENT

Kamis, 28 Jul 2022 13:58 WIB

Mengenal Empty Sella Syndrome, Kondisi yang Diidap Ruben Onsu

Afif Ahmad Rifai - detikHealth
Ruben Onsu Ruben Onsu (Foto: dok. Capture YouTube Official Trans TV)
Jakarta -

Empty Sella Syndrome (ESS) sempat menjadi buah bibir belakangan ini, lantaran penyakit langka tersebut diketahui menyerang salah satu publik figur Indonesia, Ruben Onsu. Lantas, apa itu ESS dan mengapa bisa sampai menyerang Ruben Onsu?

ESS adalah suatu kondisi di mana kelenjar pituitari yang melekat pada otak menyusut atau menjadi rata. Kelenjar pituitari umumnya mengeluarkan hormon yang akan mengatur keseimbangan tubuh dari banyaknya hormon yang mengontrol pertumbuhan, perkembangan dan metabolisme tubuh.

Dikutip dari Mount Sinai, ketika kelenjar pituitari menyusut atau menjadi rata, ia tidak akan terdeteksi oleh pemindai MRI. Hal itu akan membuat area kelenjar pituitari tampak seperti "sella kosong", namun sebenernya sella tidak kosong.

Biasanya, sella sering diisi dengan cerebrospinal fluid (CSF), yaitu cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang. Ketika seseorang mengidap ESS, cairan tersebut bocor ke dalam sella tursika yang mengakibatkan kelenjar pituitari tertekan, sehingga kelenjar menyusut atau rata.

ESS umumnya menyerang wanita yang gemuk dan menyebabkan CSF berada di bawah tekanan yang lebih tinggi, sehingga kelenjar pituitari menjadi bermasalah. Masalah pada kelenjar pituitari dapat mengacaukan keseimbangan hormon dan kelenjar lainnya pada tubuh, seperti kelenjar adrenal, hormon hati yang berhubungan dengan pertumbuhan, ovarium, testis, dan tiroid.

Penyebab Empty Sella Syndrome

Berdasarkan penyebabnya ESS dibedakan menjadi dua macam, yaitu ESS primer dan ESS sekunder.

1. Empty Sella Syndrome Primer

ESS primer terjadi ketika salah satu lapisan (arachnoid) yang menutupi bagian luar otak menonjol ke dalam sella dan menekan kelenjar pituitari.

2. Empty Sella Syndrome Sekunder

ESS sekunder terjadi ketika sella kosong karena kelenjar pituitari telah rusak yang biasanya disebabkan oleh tumor, terapi radiasi, operasi atau trauma.

Gejala Empty Sella Syndrome

Pada banyak kasus, ESS tidak memiliki gejala apapun. Pasien umumnya mengetahui dirinya mengidap ESS ketika sedang melakukan MRI atau CT scan pada bagian kepala dan otak akibat dari gangguan kesehatan lain.

Meskipun begitu, terdapat juga laporan pasien yang mengidap ESS memiliki beberapa gejala, seperti:

  • Sakit kepala
  • Menstruasi tidak teratur
  • Gangguan ereksi
  • Turunnya gairah seksual atau libido
  • Kelelahan
  • Keluarnya puting susu

Pengobatan Empty Sella Syndrome

Pada kasus ESS primer, pasien tidak perlu mendapatkan pengobatan jika fungsi kelenjar pituitari normal. Namun, beberapa pasien akan diresepkan sejumlah obat yang fungsinya untuk mengobati kadar hormon yang tidak normal.

Pada kasus ESS sekunder, pasien akan diberikan pengobatan untuk menggantikan hormon yang hilang. Namun pada beberapa kasus, pembedahan perlu dilakukan untuk memperbaiki sella dengan tujuan mencegah CSF bocor ke hidung dan sinus.

Kelompok Rentan Terkena Empty Sella Syndrome

Dikutip dari National Organization for Rare Disorders (NORD), ESS empat kali lebih sering menyerang wanita dibandingkan pria. Kebanyakan kasus ESS lebih banyak terjadi pada wanita paruh baya yang mengalami obesitas dan memiliki tekanan darah tinggi (hipertensi).

ESS adalah salah satu penyakit langka yang umumnya tidak memiliki gejala. Hal itu membuat peneliti sulit untuk menyatakan jumlah pengidap dari penyakit ini.

Ketika seseorang didiagnosis mengidap Empty Sella Syndrome, segera konsultasikan bersama dokter untuk dilakukan penanganan yang paling tepat.



Simak Video "Ruben Onsu Idap Empty Sella Syndrome, Kenali Gejala dan Penyebabnya"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT