ADVERTISEMENT

Jumat, 29 Jul 2022 12:14 WIB

Riset Sebut Long COVID Bikin Gairah Seks Merosot, Begini Temuannya

Vidya Pinandhita - detikHealth
Virus In Red Background - Microbiology And Virology Concept Foto: Getty Images/iStockphoto/loops7
Jakarta -

Sejumlah negara termasuk Indonesia kini diterpa lonjakan kasus COVID-19. Salah satu yang menjadi sorotan, yakni risiko gejala COVID-19 berkepanjangan atau 'Long COVID' meski pasien telah dinyatakan negatif Corona.

Sebelumnya diketahui, gejala paling umum COVID-19 berupa kehilangan kemampuan mencium bau dan masalah pernapasan, disertai kelelahan, ruam, hingga kabut otak. Namun kini, peneliti mengkonfirmasi rentang gejala COVID-19 meluas, bahkan bisa dialami pasien hingga dua tahun. Peneliti juga mengidentifikasi berdasarkan faktor jenis kelamin, riwayat penyakit, dan etnis di balik tingkat kerentanan untuk mengalami Long COVID.

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan di Nature Medicine. Menurut analisis review dari catatankesehatan 2,4 juta orang di Inggris dengan data terhitung pada Januari 2020 hingga April 2021, gejala Long COVID juga meliputi penurunan gairah seks, kesulitan ejakulasi dan penurunan libido, halusinasi, hingga kerontokan rambut.

Tim dokter dan peneliti juga mengelompokkan gejala ke dalam tiga kategori, yaitu gejala pernapasan berupa batuk dan sesak napas, kesehatan mental dan masalah kognitif seperti kabut otak (brain fog), dan gejala yang lebih luas seperti nyeri dan kelelahan.

Lebih lanjut, peneliti mengidentifikasi kelompok yang paling rentan mengalami Long COVID. Hasil studi menyebut, kondisi Long COVID lebih banyak dialami wanita.

Kondisi tersebut juga rentan dialami oleh orang dengan kemampuan finansial ke bawah, perokok, dan pengidap obesitas. Selain itu, orang dengan masalah kesehatan seperti celiac, migrain, multiple sclerosis, fibromyalgia, kecemasan dan depresi juga berisiko lebih besar mengalami gejala COVID-19 yang menetap.

"Perempuan, misalnya, lebih banyak yang mengalami penyakit autoimun. Melihat peningkatan kemungkinan wanita memiliki COVID yang lama dalam penelitian kami, mendorong minat kami untuk menyelidiki apakah autoimunitas atau penyebab lain dapat menjelaskan peningkatan risiko (Long COVID) pada wanita," ujar Anuradhaa Subramanian, penulis utama makalah tersebut, dikutip dari Times of India, Jumat (29/7/2022).

Ia berharap, temuan penelitian tersebut dapat menjadi acuan pencarian lebih jauh yerkait penyebab Long COVID. Hasil penelitiannya juga bisa membantu praktisi kesehatan untuk melindungi kelompok rentan, serta mengidentifikasi faktor risiko dari gejala COVID-19 yang menetap selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan menahun.



Simak Video "Epidemiolog Tegaskan Sering Terinfeksi Covid-19 Tak Bikin Tubuh Kian Kebal"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT