ADVERTISEMENT

Senin, 01 Agu 2022 17:00 WIB

Harian COVID RI Masih Jauh dari Prediksi Puncak Omicron BA.5, Inikah Sebabnya?

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Vakinasi massal lanjutan atau dosis ketiga mulai gencar dilakukan. Salah satunya di Kota Bekasi, tepatnya di Stadion Patriot Candrabhaga. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) sebelumnya menyebutkan Indonesia akan menghadapi gelombang subvarian Omicron BA.4-BA.5 yang bakal tembus 20 ribu kasus per hari. Disebutkan juga gelombang tersebut akan tiba pada minggu ke-2 sampai ke-3 Juli 2022. Mengingat sampai saat ini kasus COVID-19 masih di bawah 10 ribu kasus, apakah prediksi tersebut tidak tercapai karena banyak masyarakat yang melakukan tes antigen sendiri demi menghindari PeduliLindungi berwarna hitam?

Menurut juru bicara Kemenkes RI Mohammad Syahril, sampai saat ini prediksi gelombang subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 yang disebut bisa mencapai 20 ribu kasus per hari masih belum terjadi dan bisa saja tidak terjadi. Hal tersebut karena upaya-upaya yang kini diterapkan di Indonesia, seperti menjaga protokol kesehatan maupun vaksinasi sudah berjalan sangat baik.

"Jadi beberapa negara memprediksi sepertiga dari jumlah Omicron. Nah, kalau kita 60 ribu kemarin, berarti sepertiganya 20 ribu per hari itu kan prediksi. Dan sampai saat ini kita katakan belum terjadi dan bisa tidak terjadi. Kita berharap tidak terjadi, artinya prediksi itu bisa tidak terwujud karena upaya-upaya kita yang sudah bagus, baik protokol kesehatan maupun vaksinasi yang dilakukan," tuturnya dalam acara podcast Radio Kesehatan Kemenkes RI, Senin (1/8/2022).

Syahril menegaskan, adanya tes antigen yang bisa dibeli sendiri oleh masyarakat tujuannya bukan untuk menghindari PeduliLindungi berwarna hitam. Melainkan masyarakat dapat bertindak lebih lanjut, seperti melakukan isolasi mandiri dan menghindari orang lain sebagai upaya pencegahan penularan COVID-19.

Ia berharap, tes tersebut tidak disalahartikan oleh masyarakat agar bisa melakukan perjalanan hingga aktivitas lainnya jika dinyatakan positif COVID-19.

"Tadi memang ada anjuran dari pemerintah ada satu self assessment, di luar negeri sudah sebagian besar negara maju melakukan tes sendiri, seperti tes hamil. Untuk melihat begitu dia positif, bukan PeduliLindungi supaya tidak hitam. Tapi justru dia positif, saya harus isolasi mandiri, saya harus menghindari (orang lain) itu tujuannya sebetulnya. Jadi, jangan sampai disalahpahamkan, bahwasanya ini untuk dia PeduliLindungi hijau lagi," ucapnya lagi.

"Tapi imbauan saya ya, ini kan untuk kita bersama. Jangan lagi mencoba untuk mengakali atau mensiasati agar bisa terbang, agar bisa itu, itu tidak baik. Jujurlah pada diri kita sendiri. Kalau kita tahu kita positif terus kita begitu, bahaya ya," sambungnya.



Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT