ADVERTISEMENT

Selasa, 02 Agu 2022 13:02 WIB

Cacar Monyet Picu Kematian di Spanyol, Kok Bisa Virusnya Masuk ke Otak?

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Doctor holding Monkeypox Test Tube Result Positive. Global virus concept. Foto: Getty Images/iStockphoto/atakan
Jakarta -

Spanyol baru-baru ini melaporkan kematian kedua terkait cacar monyet, Sabtu (30/7/2022). Ini merupakan kasus kematian kedua di Eropa, dan ketiga di luar negara endemik.

Dikutip dari The Guardian, kematian pasien cacar monyet pertama di Spanyol diperburuk oleh peradangan otak atau ensefalitis yang terkait dengan virus cacar monyet.

Lantas, bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

dr Zulvikar Syambani Ulhaq, M Biomed, PhD, Pusat Riset Kedokteran dan Praklinis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan, setiap orang yang terkena cacar monyet memiliki kekebalan tubuh atau imunitas yang berbeda-beda.

Menurutnya, pada kasus-kasus tertentu yang memiliki tingkat keparahan tinggi, pasien kemungkinan memiliki riwayat penyakit sekunder, termasuk rendahnya imunitas. Karenanya, kondisi seperti ini bisa saja menyebabkan ensefalitis atau peradangan pada otak.

"Jadi, setiap orang yang terkena cacar monyet memiliki kekebalan tubuh atau imunitas yang berbeda-beda. Mungkin kalau saya baca, itu memang pada kasus-kasus tertentu yang memiliki keparahannya yang tinggi, dia punya riwayat penyakit sekunder yang lainnya, termasuk juga adanya rendahnya imunitas. Mungkin oleh karena itu, dia menyebabkan ini ya ensefalitis atau peradangan pada otak," tuturnya dalam webinar virtual, Selasa (2/8/2022).

dr Zulvikar juga menjelaskan, virus cacar monyet tak hanya ditemukan pada lesi kulit, tetapi juga bisa ditemukan di dalam darah. Hal inilah yang menyebabkan virus tersebut masuk ke dalam otak.

Adapun kelompok yang rentan mengalami kondisi perburukan gejala akibat cacar monyet, yaitu pasien imunosupresi, lanjut usia, dan pasien yang memiliki penyakit sekunder.

"Karena memang virus ini kan tidak hanya bisa ditemukan pada lesi kulit, tapi juga misalnya bisa ditemukan di darah itu juga ada. Dari situlah bisa juga virus ini masuk ke dalam otak," sambungnya lagi.

"Sama dengan COVID-19, mungkin mirip. Jadi memang pada pasien-pasien yang imunosupresi, kemudian pasien-pasien usia tua, atau pasien-pasien dengan penyakit sekunder," kata dr Zulvikar.



Simak Video "Respons WHO Terkait Laporan Kasus Kematian Akibat Cacar Monyet"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT