ADVERTISEMENT

Rabu, 03 Agu 2022 05:30 WIB

Round Up

Kata Dokter Forensik soal 'Otak Pindah ke Perut' Usai Brigadir J Diautopsi

Vidya Pinandhita - detikHealth
Peti jasad Briadir J saat akan diangkat dari makamnya. (foto: istimewa) Autopsi ulang Brigadir J memunculkan spekulasi viral 'otak pindah ke perut' (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Pernyataan pengacara Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak soal hasil autopsi 'otak pindah ke perut' viral jadi sorotan publik. Menurut ahli kedokteran forensik dari Universitas Indonesia, dr Budi Sampurna, hal tersebut memang bisa terjadi dalam proses autopsi.

Ia menjelaskan proses autopsi memiiliki beragam cara dan kebiasaan, sebagian besar mengacu pada agama dan tradisi. Di Indonesia, jaringan tubuh saat proses autopsi kebanyakan dikembalikan ke tempat semula.

Namun, di negara lain seperti Belanda hingga Jerman, otak yang diletakkan di area perut setelah proses autopsi berjalan merupakan hal lumrah. Bukan tanpa alasan, hal ini untuk mencegah 'rembesnya' potongan di tulang kepala saat otak mencair.

Alasan Medis di Balik 'Otak Turun ke Perut'

"Kalau mereka itu selesai melakukan autopsi, otak itu tidak dikembalikan di kepala. Mengapa tidak dikembalikan di kepala? Karena kepala itu sudah dipotong tulangnya. Kalau otak itu nanti mencair, maka dia bisa merembes ke situ dan bisa keluar," terangnya saat dihubungi detikcom, Selasa (2/8/2022).

Di Indonesia, umumnya, cara menyiasati 'rembes' cairan tersebut, dilakukan dengan prosedur berbeda. Cara pemotongan tulang kepala disebutnya berpengaruh, yakni dibuat dengan bentuk siku sehingga saat akan kembali ditaruh di tempat semula, tetap bisa menampung otak dengan posisi tidur.

Sementara di negara lain seperti Jerman, potongan dibuat lurus dari depan hingga belakang.

Simak video 'Pengacara Ungkap Luka Tembak Baru Brigadir J Usai Autopsi Ulang':

[Gambas:Video 20detik]



NEXT: Tiap negara punya prosedur autopsi yang berbeda.

Selanjutnya
Halaman
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT