ADVERTISEMENT

Minggu, 07 Agu 2022 11:34 WIB

TERPOPULER SEPEKAN

Kata Dokter Forensik soal Hasil Autopsi 'Otak Jasad Brigadir J Pindah ke Perut'

Irene Putri Wibowo - detikHealth
Peti jasad Briadir J saat akan diangkat dari makamnya. (foto: istimewa) Heboh autopsi Brigadir J. (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Kamaruddin Simanjuntak, pengacara Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat (Brigadir J) mengungkapkan bahwa hasil autopsi otak jenazah Brigadir J sudah pindah ke perut. Hal ini kemudian menjadi sorotan publik. Memang sebenarnya seperti apa proses autopsi hingga muncul temuan otak berada di perut?

dr Budi Sampurna, seorang ahli kedokteran forensik dari Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa pada dasarnya terdapat beragam cara serta kebiasaan dalam proses autopsi misalnya melihat pada agama dan tradisi. Umumnya di Indonesia jaringan tubuh dikembalikan ke tempat semula setelah autopsi.

Lain halnya di negara seperti Jerman, Amerika, dan Belanda, hal ini terbilang lumrah jika otak diletakkan di area perut setelah autopsi. Hal ini untuk mencegah rembes dari bekas potongan di tulang kepala ketika otak nantinya mencair.

"Kalau mereka selesai melakukan autopsi, otak itu tidak akan dikembalikan di kepala. Mengapa tidak dikembalikan di kepala? Karena kepala itu sudah dipotong tulangnya. Kalau otak itu nanti mencair, maka dia bisa merembes ke situ dan bisa keluar," terangnya saat dihubungi detikcom, Selasa (2/8/2022).

"Oleh karena itu mereka mengatakan, kalau di kami, tidak kita masukkan kembali ke kepala tetapi kepala itu nanti sudah ditutup seperti kapas, atau ada khusus lah semacam kertas yang ditaruh situ. Kemudian potong lagi tengkoraknya dan boleh ditutup," sambung dr Budi.

Selanjutnya, dr Budi menjelaskan di Indonesia pemotongan tengkorak dilakukan dengan cara tertentu agar ketika otak dikembalikan ke area kepala dalam posisi tiduran, cairannya dapat tertampung.

"Kepala itu kan dipotong tulangnya. Cara memotongnya kalau di kita itu dibikin siku sehingga nanti saat ditaruh lagi, itu akan tetap dan bisa menampung otak pada waktu dia tiduran," tambahnya.

"Kalau di negara lain seperti Jerman, dia dipotongnya lurus saja begitu dari depan ke belakang seperti topi. Sehingga, nanti kalau dikembalikan ke situ otaknya kemudian ditutup, maka si tulang ini kan geser-geser nih. Geser-geser itu bisa mengakibatkan otaknya yang nantinya menjadi cair itu akan menjadi keluar, rembes," jelas dr Budi.

Ia juga menegaskan bahwa setiap negara bisa memiliki tata cara yang berbeda terkait cara mengembalikan jaringan tubuh setelah proses autopsi. Hanya di beberapa negara, otak memang lumrah jika diletakkan di perut pasca autopsi untuk mencegah cairannya agar tidak merembes.



Simak Video "Netizen Baper Lihat Pelukan Sambo-Putri, 'Stockholm Syndrome'?"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT