ADVERTISEMENT

Rabu, 10 Agu 2022 07:00 WIB

Berapa Lama Virus Omicron Bertahan di Tubuh Manusia? Ini Faktanya

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
SDN Jati 01 Pagi, Pulo Gadung, Jakarta Timur, gelar swab PCR massal yang diikuti para guru. Hal itu dilakukan guna cegah penyebaran Corona di lingkungan sekolah Berapa lama virus Omicron bertahan di tubuh manusia (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Berapa lama virus Omicron bertahan di tubuh manusia? Mengingat, Omicron merupakan varian yang diyakini lebih menular daripada varian lainnya. Juga, mayoritas memicu gejala yang lebih ringan.

Di Indonesia sendiri sudah ditemukan banyak mutasi dari COVID-19 varian Omicron. Mulai dari BA.2 yang disebut Son of Omicron, BA.4 dan BA.5 atau kedua subvarian yang memicu gelombang kali ini, hingga subvarian Centaurus atau BA.2.75. Bahkan baru-baru ini ada subvarian baru, yaitu BA.4.6 yang sudah menyebar di Amerika Serikat.

Pusat Genomik Medis di Rumah Sakit Ramathibodi Thailand meyakini subvarian baru tersebut 15 persen lebih mudah menular daripada BA.5 yang merebak di seluruh dunia, serta 28 persen lebih menular dibandingkan BA.5 yang merebak di Asia.

Begitu juga subvarian Omicron BA.4.6 ini lebih menular sebesar 12 persen daripada BA.2.75 di seluruh dunia, dan 53 persen lebih menular daripada Omicron BA.2.75 yang ditemukan di Asia, subvarian yang pertama kali ditemukan di India.

Meskipun demikian, pusat tersebut masih belum bisa menyimpulkan apakah subvarian baru ini lebih serius daripada lainnya, termasuk menghindari kekebalan hingga gejala berat. Lantas karena penyebarannya cepat, berapa lama Omicron bisa bertahan di dalam tubuh? Simak berikut ini.

Berapa Lama Virus Omicron Bertahan di Tubuh Manusia?

Menurut spesialis penyakit menular, PharmD, BCPS, BCPPS, BCIDP, Kristen Nichols, lama waktu virus COVID-19, termasuk Omicron umumnya bervariasi dari orang ke orang. Virus ini biasanya hanya bertahan 10 hari setelah timbulnya gejala pada pasien bergejala ringan.

Namun, bisa saja lama bertahan di dalam tubuh bagi pasien yang mengalami komplikasi atau gejala berat.

"Kebanyakan orang dengan penyakit ringan hingga sedang tidak lagi menular 10 hari setelah timbulnya gejala," kata Nichols.

"Tapi bisa lebih lama untuk pasien yang pernah mengalami penyakit parah, atau untuk pasien dengan sistem kekebalan yang lemah," sambungnya.

Nichols juga menyebut apabila seseorang dinyatakan positif COVID-19 dan tak memiliki gejala, harus diisolasi selama 10 hari penuh sampai dinyatakan negatif COVID-19.

"Harus mengisolasi selama 10 hari penuh dari tes positif," lanjutnya.



Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT