ADVERTISEMENT

Rabu, 10 Agu 2022 12:24 WIB

Motif Sambo Bunuh Brigadir J 'Khusus Dewasa', Psikolog Anak Beri Catatan

Vidya Pinandhita - detikHealth
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo akan mengumumkan tersangka baru dalam kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J. Detik-detik sebelum pengumuman tersangka, rumah Irjen Ferdy Sambo dijaga Brimob, Selasa (9/8/2022). Anggota Brimob mendatangi rumah eks Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo. Foto: Rengga Sencaya
Jakarta -

'Tebak-tebakan' di balik kasus kematian Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat (Brigadir J) membuat geger publik, terlebih kini Irjen Ferdy Sambo ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus tersebut. Menko Polhukam Mahfud Md menyebut, motif Sambo di balik pembunuhan tersebut bersifat sensitif dan hanya bisa didengar oleh orang dewasa.

"Soal motif, biar nanti dikonstruksi hukumnya karena itu sensitif, mungkin hanya boleh didengar oleh orang-orang dewasa," beber Mahfud dalam jumpa pers di Kemenko Polhukam, Selasa (9/8/2022), dikutip dari detikNews.

Lebih lanjut, Mahfud menyerahkan proses hukum kasus ini kepada Timsus Polri. Kini, Polri masih menyusun konstruksi perkara penembakan Brigadir J.

"Biar nanti dikonstruksi motifnya," kata Mahfud.

Menanggapi itu, psikolog Anak dan Keluarga Anna Surti Ariani, SPsi, MSi, Psi, atau yang akrab disapa 'Nina' menjelaskan beberapa topik berita memang tidak ramah bagi anak-anak. Misalnya berita terkait pembunuhan, horor, pornografi, atau seks yang vulgar. Walhasil, dampingan dan komunikasi orangtua dengan anak setelah mengakses berita amat diperlukan.

Tanpa pengawasan dan arahan, anak-anak bisa memiliki kesalahpahaman atas pesan yang disampaikan dalam informasi tersebut.

"Pemahaman anak itu berbeda, bahkan terbatas. Jadi bisa berbeda, atau bisa terbatas. Secara kualitatif berbeda, atau secara kuantitatif berbeda jumlahnya. Dengan jumlah atau kualitas pemahaman yang berbeda dengan orang dewasa, maka anak tidak betul-betul menangkap berita seperti orang dewasa," terang Nina pada detikcom, Rabu (10/8/2022).

"Bisa jadi, anak menginterpretasi berita dengan caranya sendiri, dengan pikirannya sendiri. yang kita nggak tahu apakah itu tepat atau tidak dan apakah itu oke-oke saja untuk anak atau tidak," lanjutnya.

Nina mencontohkan, berita tentang bencana alam kerap disampaikan berulang dengan pembaruan informasi terus-menerus selama berhari-hari. Besar risiko jika anak tidak diberi pengarahan, anak mengira setiap harinya terdapat bencana baru. Efeknya, anak menjadi cemas.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Netizen Baper Lihat Pelukan Sambo-Putri, 'Stockholm Syndrome'?"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT