ADVERTISEMENT

Jumat, 12 Agu 2022 08:00 WIB

Wanti-wanti Psikolog Anak Soal 'Misteri' Motif Sambo Habisi Brigadir J

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Sejumlah anggota Brimob bersenjata lengkap mendatangi rumah eks Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo. Sejumlah anggota Propam Polri dan Inafis juga datang. (Nahda RU/detikcom) Foto: Sejumlah anggota Brimob bersenjata lengkap mendatangi rumah eks Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo. Sejumlah anggota Propam Polri dan Inafis juga datang. (Nahda RU/detikcom)
Jakarta -

Eks Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo kini ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan Brigadir J. Soal motif pembunuhan tersebut, Polri enggan membukanya ke publik dan masih menjadi 'misteri' sampai saat ini.

Meski begitu, Menko Polhukam Mahfud MD menyebut, motif Sambo bersifat sensitif dan hanya boleh didengar orang dewasa. Sementara itu Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian Djajadi dalam konferensi pers, Kamis (11/8/2022), menyebut motifnya terkait harkat dan martabat keluarga.

Apa dampaknya jika anak terpapar berita tersebut?

Psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani, SPsi, MSi, Psi atau kerap dipanggil Nina, mengungkapkan ada beberapa topik berita yang sensitif untuk didengar maupun dilihat anak. Misalnya, berita terkait pembunuhan, pornografi, horor, atau seks yang vulgar. Karenanya, sangat penting didampingi oleh orang tua ketika anak mengakses berita tersebut jika sangat diperlukan.

"Pemahaman anak itu berbeda, bahkan terbatas. Jadi bisa berbeda, atau bisa terbatas. Secara kualitatif berbeda, atau secara kuantitatif berbeda jumlahnya. Dengan jumlah atau kualitas pemahaman yang berbeda dengan orang dewasa, maka anak tidak betul-betul menangkap berita seperti orang dewasa," jelas Nina pada detikcom, Rabu (10/8/2022).

Ini diperlukan karena setiap anak memiliki interpretasi yang berbeda-beda terhadap informasi berita, sehingga berisiko besar apabila anak belum bisa memahami tindakan yang tepat untuk menyikapi berita tersebut.

Terkait kasus yang terjadi, Nina mengungkapkan anak bisa merasa takut apabila menonton berita pembunuhan yang disampaikan secara terus-menerus. Bahkan, berisiko anak menganggap dunia tak aman.

"Atau bahkan ketika ini disebut bahwa ini polisi, (anak berpikir) 'ih berarti polisi tidak menjaga masyarakat malah mencelakai'? Itu kan bisa pemahaman yang salah. Padahal tidak semua polisi seperti itu. Misalnya begitu. Bisa saja anak memiliki pemahaman yang berbeda dan belum tentu baik untuk dirinya," ucapnya.


NEXT: Cara mengatasi anak menonton berita sensitif

Selanjutnya
Halaman
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT