ADVERTISEMENT

Senin, 15 Agu 2022 21:30 WIB

Nyaris 100 Persen Warga RI Punya Antibodi COVID, Sudah 'Kebal' Semua?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Kasus COVID-19 di beberapa wilayah di Indonesia, khususnya DKI, mengalami penurunan. Namun bukan berarti virus Corona sudah hilang karena kita masih berperang melawan COVID-19. Foto: PIUS ERLANGGA
Jakarta -

Belakangan, laporan tim Fakultas Kesehatan Masyarakat FKM UI terkait temuan 98,5 persen masyarakat Indonesia memiliki antibodi terhadap virus Corona jadi sorotan. Kenaikan ini salah satunya dipengaruhi meningkatnya cakupan vaksinasi COVID-19 booster.

Namun, pakar menegaskan, tak berarti orang yang sudah menerima suntikan booster bebas dari ancaman COVID-19.

Menurut Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia Prof Dr dr Iris Rengganis, SpPD, K-AI, hal tersebut disebabkan virus Corona yang terus bermutasi, serta kondisi fisik masing-masing orang yang berbeda meski sama-sama sudah disuntik booster.

Terlebih mengingat, tingkat proteksi dari vaksin COVID-19 menurun dalam waktu enam bulan setelah suntikan vaksin terakhir (dosis kedua). Studi juga menyebut, vaksin COVID-19 booster bukan 100 persen mencegah infeksi, melainkan menekan risiko gejala berat dan kematian pada pasien COVID-19.

"Antibodi setelah vaksin tinggi memang, betul tinggi. Tetapi antibodi yang tinggi bukan berarti melindungi karena ada mutasi pertama, kedua tergantung kondisi orang itu dari host-nya," ujarnya dalam siaran langsung BNPB Indonesia bertajuk 'Sambut Kemerdekaan, Prokes Jangan Kendor', Senin (15/8/2022).

"Bagaimana orang itu membentuk antibodi, bagaimana sistem imun seseorang tidak bisa lihat. Tergantung antibodi berapa yang akan terbentuk. Selain antibodi, seberapa bisa sel-sel lain melindungi tubuhnya bila terinfeksi? Jadi bagaimana pun juga kita tidak bisa mengatakan bahwa antibodi tinggi bisa melindungi. Kecuali, dia tidak ada mutasi," imbuh Prof Iris.

Terakhir menurutnya, di samping faktor kondisi fisik dan mutasi virus Corona, lingkungan juga mempengaruhi kerentanan orang terkena COVID-19 meski sudah menerima suntikan booster.

"Lingkungan itu juga sangat mempengaruhi. Jadi kalau lingkungannya tidak ada protokol kesehatan yang baik, itu juga penularan akan mudah terjadi," pungkas Prof Iris.



Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT