ADVERTISEMENT

Rabu, 17 Agu 2022 17:00 WIB

Alasan China Tersandung 'Resesi Seks', Gairah Punya Anak Merosot Efek COVID?

Vidya Pinandhita - detikHealth
A child holds a dinosaur balloon during Childrens Day at a mall in Beijing on Tuesday, June 1, 2021. Chinas ruling Communist Party said it will ease birth limits to allow all couples to have three children instead of two in hopes of slowing the rapid aging of its population, which is adding to strains on the economy and society. (AP Photo/Ng Han Guan) Ilustrasi penjelasan ahli demografi terkait penyebab 'resesi seks' di China. Foto: AP/Ng Han Guan
Jakarta -

Kini heboh kabar China diterpa 'resesi seks'. Pada kondisi tersebut, warga China mengalami penurunan gairah untuk berhubungan seks, menikah, dan memiliki anak. Imbasnya, angka kelahiran di China menurun hingga diprediksi bakal mencetak rekor terendah tahun ini di bawah 10 juta.

Para ahli demografi menyorot potensi penurunan gairah tersebut berkaitan dengan langkah penanganan COVID-19 secara ketat yang diterapkan oleh pemerintah China, yakni 'Nol-COVID'. Warga banyak menyaksikan aksi pihak berwenang secara paksa memasuki rumah untuk membawa warga ke pusat karantina.

Seiring itu, banyak juga laporan warga yang kehilangan pendapatan, serta sulit mendapat akses ke perawatan kesehatan dan makanan.

"China jelas merupakan pemerintahan besar dan keluarga kecil. Kebijakan nol-COVID China telah menyebabkan ekonomi nol, pernikahan nol, kesuburan nol," kata ahli demografi China terkemuka Yi Fuxian, dikutip dari Reuters, Rabu (17/8/2022).

Pakar dari Perserikatan Bangsa-bangsa kini ikut menyorot populasi China menyusut 109 juta pada tahun 2050, lebih dari tiga kali lipat penurunan perkiraan mereka sebelumnya pada 2019.

Sebuah laporan terpisah dari PBB China menyebut, pandemi menimbulkan dampak jangka panjang pada kelahiran. Pasalnya, wanita khawatir perihal ketidakamanan finansial, isu vaksin COVID-19 yang mempengaruhi janin, serta sulitnya merawat bayi di bawah pembatasan ketat pemerintah.

"Pasangan yang mungkin berpikir untuk memiliki anak di tahun depan, pasti menundanya. Pasangan yang benar-benar tidak yakin, telah menunda tanpa batas waktu," beber Perwakilan Dana Kependudukan PBB untuk China.Justine Coulson.

Menurut ahli demografi, jumlah kelahiran baru akan turun ke rekor terendah tahun ini hingga mencapai di bawah 10 juta dibanding 10,6 juta bayi lahir tahun lalu. Angka tersebut pun sudah 11,5 persen lebih rendah dibanding 2020.



Simak Video "Resor di China Lockdown, 80 Ribu Turis Terjebak"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT