ADVERTISEMENT

Rabu, 17 Agu 2022 07:10 WIB

'Resesi Seks' China Makin Ngeri? Kelahiran Menyusut, Termasuk Terendah Dunia

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
BEIJING, CHINA -MAY 30: Office workers wait in line to show their health codes and proof of 48 hour negative nucleic acid test, outside an office building after some people returned to work, in the Central Business District on May 30, 2022 in Beijing, China. China is trying to contain a spike in coronavirus cases in Beijing after hundreds of people tested positive for the virus in recent weeks. Local authorities have initiated mass testing, mandated proof of a negative PCR test within 48 hours to enter many public spaces, closed schools and  banned gatherings and inside dining in all restaurants, and locked down many neighborhoods in an effort to maintain the countrys zero COVID strategy. Due to improved control and lower numbers of new cases and reduced spread, municipal officials from Sunday permitted the easing of some restrictions to allow for limited return to office, resumption of public transport, and the re-opening of many shopping malls, parks, and scenic spots with limited capacity in some districts. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images) Ilustrasi populasi di China. (Foto: Getty Images/Kevin Frayer)
Jakarta -

Angka kelahiran baru di China dengan populasi sekitar 1,4 miliar disebut bakal mencetak rekor terendah tahun ini. Ahli demografi setempat menyebut angkanya diperkirakan turun di bawah 10 juta, dari semula 10,6 juta bayi lahir per 2021.

"Sudah 11,5 persen lebih rendah dari tahun lalu," sebut salah satu pakar di China, dikutip dari Reuters, Rabu (17/8/2022).

China secara resmi mengakui bahwa negara mereka berada di ambang penurunan demografis. Karenanya, pemerintah setempat mengganti kebijakan yang semula berlaku di 1980-2015 yakni satu keluarga disarankan hanya memiliki satu anak, kini sejak 2021 pasangan dibolehkan memiliki tiga anak.

Tak hanya itu, China mencoba mengurangi pajak, memperpanjang cuti hamil hingga subsidi asuransi kesehatan, perumahan, uang tambahan untuk anak, sampai les privat anak. Hal tersebut mendorong 'resesi' seks atau angka kelahiran yang dilaporkan terus menurun.

Kebijakan baru per Selasa (16/8) yakni China akan mengutamakan langkah pencegahan aborsi demi menaikkan tingkat kelahiran. Istilah 'resesi seks' yang disebut dialami China, merujuk pada turunnya gairah pasangan untuk melakukan hubungan seksual, menikah, atau memiliki anak.

"China akan mencegah aborsi dan mengambil langkah-langkah untuk membuat perawatan kesuburan lebih mudah diakses sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan salah satu tingkat kelahiran terendah di dunia," sebut Otoritas Kesehatan Nasional China mengatakan pada hari Selasa.

Pemerintah daerah juga didorong untuk meningkatkan layanan perawatan bayi dan tempat kerja yang ramah keluarga, menurut pedoman yang diterbitkan di situs web otoritas.

Sementara pihak berwenang mengatakan menyebut promosi kesehatan reproduksi bakal sering dilakukan untuk memicu kesadaran masyarakat terkait pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan mengurangi aborsi yang tidak diperlukan secara medis.

Tingkat kelahiran di China pada tahun 2021 tercatat 1,16, jauh di bawah standar OECD yaitu 2,1 untuk populasi yang stabil dan termasuk yang terendah di dunia.



Simak Video "Sistem Regulasi Vaksin China Lolos Penilaian WHO"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT