ADVERTISEMENT

Senin, 06 Jun 2022 13:32 WIB

Heboh Ancaman 'Resesi Seks' di Jepang, Banyak Pria Ngaku Masih Perjaka

Vidya Pinandhita - detikHealth
Pelaksanaan Olimpiade Tokyo 2020 tinggal menghitung hari. Bagaimana suasana di kota itu jelang pembukaan pesta olahraga terbesar dunia tersebut? Data pemerintah Jepang menunjukkan rekor jumlah kelahiran terendah di Jepang pada 2021. Foto: ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN
Jakarta -

Berdasarkan data pemerintah Jepang pada Jumat (3/6/2022), negara tersebut mencatat rekor jumlah kelahiran terendah pada 2021, atau yang biasa dikaitkan dengan 'resesi seks'. Hal itu memicu penurunan alami populasi terbesar.

Mengingat, istilah 'resesi seks' merujuk pada penurunan gairah pasangan untuk melakukan hubungan seksual, menikah, atau mempunyai anak. Artinya di masa depan, populasi orang tua akan menjadi lebih banyak dibandingkan usia produktif.

Dikutip dari Reuters, terdapat sebanyak 811.604 kelahiran tahun lalu. Menurut Kementerian Kesehatan, tersebut merupakan angka paling sedikit sejak 1899. Di samping itu, jumlah kematian naik menjadi 1.439.809, menyebabkan penurunan keseluruhan sebanyak 628.205 dalam populasi.

Kemudian, selama enam tahun berturut-turut, tingkat kesuburan keseluruhan juga menurun menjadi 1,3. Hal itu mengacu pada penurunan jumlah rata-rata anak yang lahir dari seorang wanita seumur hidupnya.

Diketahui, Jepang juga memiliki salah satu populasi penuaan tercepat di dunia. Ditambah, perbatasan negara yang ditutup selama pandemi COVID-19 berimbas terhadap cepatnya penyusutan tenaga kerja.

Apa Penyebabnya?

Berdasarkan Survei Kesuburan Nasional Jepang pada 2019, satu dari setiap 10 pria di Jepang berusia kisaran 30 tahun belum pernah berhubungan seks. Angka ini tergolong lebih tinggi dibandingkan negara-negara industri lainnya.

Para ahli dalam laporan tersebut menyebut, kenaikan jumlah warga perjaka pada usia tersebut di Jepang dipicu oleh beragam faktor, seperti meningkatnya ketidakstabilan keuangan nasional hingga kemunculan aplikasi yang menawarkan pertemanan digital.

Namun terlepas dari faktor penyebab, tingkat kesuburan yang rendah di Jepang memicu kekhawatiran para peneliti kesehatan masyarakat dan pakar demografi di negara tersebut.

Psikolog klinis di Albuquerque, David Ley, PhD menjelaskan resesi seks tidak terlepas dari stigma yang memicu kecemasan terhadap seks. Misalnya, anggapan bahwa orang terlalu terobsesi dengan seks atau sebaliknya, orang dinilai kurang melakukan hubungan seks.

"Kisah dari isu ini mewakili cara kita memandang orang lain tentang seks. (Orang-orang sering berkata) 'kamu terlalu seksual, kamu terobsesi dengan seks, kamu kecanduan'. Lalu tiba-tiba berkata 'kamu tidak cukup berhubungan seks'. Bagaimana pun, langit runtuh dan kita tidak pernah mengatasi situasi ini dengan cara yang bernuansa," beber Ley.



Simak Video "Satgas Covid-19: Kasus Kematian Meningkat Selama 3 Hari Terakhir"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT