ADVERTISEMENT

Rabu, 17 Agu 2022 17:19 WIB

Update COVID-19 RI 17 Agustus: 5.253 Kasus Baru, Kasus Aktif Jadi 53.132

Vidya Pinandhita - detikHealth
Total jumlah pasien yang terkonfirmasi positif akibat virus corona pada hari ini menjadi 4.667.554 orang. DKI Jakarta jadi penyumbang kasus terbanyak. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Indonesia mencatat 5.253 kasus baru COVID-19, Rabu (17/8/2022). Kasus aktif COVID-19 kini ada sebanyak 53.132. Total kasus COVID-19 terkonfirmasi di Indonesia kini ada 6.297.484.

Seiring itu, hari ini tercatat jumlah pasien sembuh sebanyak 4.324 dan 19 orang meninggal dunia akibat COVID-19.

Sebanyak 85.180 spesimen diperiksa hari ini, dengan jumlah suspek pasien COVID-19 di Indonesia kini ada sebanyak 5.163.

Belum lama ini, Kementerian Kesehatan RI dan peneliti Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) melaporkan, 98, 5 persen warga Indonesia sudah memiliki antibodi terhadap virus Corona. Menurut survei pertama di Desember 2021, tingkat antibodi ada di angka 87,8 persen.

"Kalau kita lihat kadarnya, ada peningkatan sebesar 4 kali lipat pada antibodi SARS-CoV-2, antibodi untukCOVID-19di Indonesia, ini kalau dibandingkan dari Desember 2021 dengan Juli 2022,"ungkap peneliti FKM UI Iwan Ariawan dalam konferensi pers Kemenkes, Kamis (11/8/2022).

Namun dalam kesempatan lainnya, Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia Prof Dr dr Iris Rengganis, SpPD, K-AI, menegaskan tingkat antibodi tidak menjamin seseorang bebas dari risiko terpapar virus Corona. Pasalnya di samping faktor antibodi,virus Corona yang terus bermutasi, dan kondisi fisik masing-masing orang yang berbeda meski sama-sama sudah disuntik booster.

"Bagaimana orang itu membentuk antibodi, bagaimana sistem imun seseorang tidak bisa lihat. Tergantung antibodi berapa yang akan terbentuk. Selain antibodi, seberapa bisa sel-sel lain melindungi tubuhnya bila terinfeksi? Jadi bagaimana pun juga kita tidak bisa mengatakan bahwa antibodi tinggi bisa melindungi. Kecuali, dia tidak ada mutasi," ujarnya dalam siaran langsung BNPB Indonesia bertajuk 'Sambut Kemerdekaan, Prokes Jangan Kendor', Senin (15/8).

"Lingkungan itu juga sangat mempengaruhi. Jadi kalau lingkungannya tidak ada protokol kesehatan yang baik, itu juga penularan akan mudah terjadi," pungkas Prof Iris.



Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/vyp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT