ADVERTISEMENT

Rabu, 17 Agu 2022 21:00 WIB

Eks Bos WHO di HUT ke-77 RI, Sorot Masih Banyak Pasien Berobat ke LN

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Ilustrasi dokter atau rumah sakit Foto: Getty Images/iStockphoto/Andrei Vasilev
Jakarta -

Mantan Direktur WHO Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama membeberkan sejumlah tantangan kesehatan di Indonesia bertepatan dengan peringatan HUT Kemerdekaan ke-77 RI. Sedikitnya ada tujuh hal yang disoroti Prof Tjandra.

Pertama, ia mendesak kesadaran masyarakat terkait pentingnya kesehatan. Menurutnya, pandemi COVID-19 mengajarkan langkah preventif dalam keseharian untuk menjaga diri terbebas dari virus, memicu adanya kebiasaan baru soal pencegahan.

"Kita semua harus menyadari, 'health is not everything, but without health everything is nothing,'" tutur Prof Tjandra kepada detikcom, Rabu (17/8/2022).

Poin kedua, pemerintah disebutnya perlu meningkatkan ketersediaan pelayanan kesehatan primer. Ia menyayangkan jumlah tenaga kesehatan yang tersedia masih jauh dari standar seharusnya.

"Walaupun sudah sejak sebelum 1980 kita sudah punya Puskesmas di semua kecamatan tapi kini 5.498 dari 10.373 Puskesmas (53 persen) belum memiliki sembilan jenis tenaga kesehatan sesuai standar, dan 586 Puskesmas belum memiliki tenaga dokter," katanya.

Lanjut ke poin ketiga, Prof Tjandra meminta adanya peningkatan mutu pelayanan di RS. Hal ini merespons tren banyak pasien Indonesia memilih berobat ke luar negeri.

"Apalagi bila dihubungkan dengan pernyataan bahwa uang yang keluar untuk membiayai yang sakit dan ke luar negeri, lebih dari Rp 110 triliun setiap tahunnya. Untuk ini setidaknya ada tiga hal yang perlu dibenahi, pertama tentang aturan termasuk perpajakan alat kesehatan, ke dua adalah sarana dan prasarana serta ketiga tentang ketersediaan dan pemerataan tenaga kesehatan yang bermutu," sambungnya.

Selanjutnya, yang tak kalah penting adalah respons pandemi COVID-19 dan kesiapan kemungkinan menghadapi wabah atau pandemi baru di masa mendatang. Terkait hal ini, tentunya diperlukan koordinasi lintas sektor yang selama ini berjalan melalui kebijakan 'One Health'.

Hal semacam itu menurut Prof Tjandra efektif menyelesaikan persoalan wabah. Itulah dua poin lanjutan yang disorot eks bos WHO tersebut.

Sementara poin keenam, Indonesia menurutnya masih belum bisa mengakhiri epidemi AIDS, tuberkulosis, malaria, dan penyakit tropis lain yang terabaikan. Bahkan, angka TBC masih relatif tinggi.

"Ketujuh adalah bagaimana Indonesia berperan dalam kesehatan dunia. Pada tahun 2022 ini sudah ada beberapa kegiatan kesehatan G20 dalam Presidensi Indonesia. Sumbangsih Indonesia untuk kesehatan dunia perlu terus ditingkatkan, baik dengan mengacu pada pengalaman kita menangani masalah kesehatan yang beragam, hasil penelitian anak negeri dan juga dengan kepakaran dan pengalaman panjang yang kita miliki," pungkas dia.



Simak Video "Heboh Juru Bahasa Isyarat HUT Ke-77 RI Ikut Joget 'Ojo Dibandingke'"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/vyp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT