ADVERTISEMENT

Kamis, 18 Agu 2022 12:00 WIB

Thailand Siap Anggap COVID-19 Seperti Flu Biasa, RI Kapan? Ini Kata Kemenkes

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Vakinasi massal lanjutan atau dosis ketiga mulai gencar dilakukan. Salah satunya di Kota Bekasi, tepatnya di Stadion Patriot Candrabhaga. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Pemerintah Thailand baru-baru ini melaporkan bahwa negaranya bakal menganggap COVID-19 seperti penyakit flu biasa. Adapun kebijakan tersebut mulai berlaku pada 1 Oktober 2022. Meski begitu, pemerintah Thailand juga tetap memantau mutasi dari virus tersebut walau jumlah infeksi COVID-19 di negara itu menurun secara signifikan. Lantas, bagaimana dengan Indonesia?

Juru bicara Kementerian Kesehatan RI Mohammad Syahril menjelaskan bahwa sampai saat ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih belum membahas kebijakan serupa. Ia menekankan, setiap negara memiliki kebijakan sendiri sesuai dengan pertimbangan masing-masing.

Sementara di Indonesia, Syahril menyebut pemerintah menerapkan prinsip kehati-hatian yang harus dilakukan secara bertahap. Sebagai contoh, pelonggaran pemakaian masker dalam hitungan satu bulan di Indonesia yang kemudian kembai diperketat. Artinya, pengambilan keputusan selalu menilai situasi dan kondisi di Indonesia.

"Jadi memang dari WHO sudah mendeclare tentang pandemi dan belum ada declare tentang kapan pencabutan pandemi. Memang beberapa negara yang kita lihat ada yang melaksanakan kebijakan sendiri-sendiri, contoh melonggarkan pemakaian masker termasuk melonggarkan isolasi mandiri. Itu kewenangan di masing-masing negara dengan pertimbangan masing-masing," ucapnya dalam konferensi pers, Kamis (18/8/2022).

"Tentu saja hal ini sesuai dengan kondisi dan kemampuan negara tersebut. Untuk Indonesia, memang kita sangat hati-hati dan dilakukan secara bertahap. Sebagai contoh, pada saat kita melonggarkan pemakaian masker dalam beberapa saat mungkin dalam hitungan satu bulan, kebijakan itu dikembalikan seperti semula. Artinya, situasional ini menyebabkan pengambilan keputusan-keputusan yang diperuntukan untuk kemaslahatan masyarakat banyak," lanjutnya lagi.

Dalam kesempatan yang sama, ahli epidemiologi FKM UI Pandu Riono juga mengungkapkan bahwa Indonesia tak perlu meniru kebijakan negara lain. Sebab, kebijakan atau keputusan disesuaikan dengan situasi dan pertimbangan di masing-masing negara.

"Indonesia tidak perlu meniru kebijakan negara lain," ucapnya.



Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT