Ternyata Ini Alasan 'Otak Pindah ke Perut' Saat Autopsi Jenazah Brigadir J

ADVERTISEMENT

Ternyata Ini Alasan 'Otak Pindah ke Perut' Saat Autopsi Jenazah Brigadir J

Vidya Pinandhita - detikHealth
Selasa, 23 Agu 2022 11:30 WIB
Peti jasad Briadir J saat akan diangkat dari makamnya. (foto: istimewa)
Autosip ulang Brigadir J. Foto: Istimewa
Jakarta -

Terkait kasus penembakan Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat (Brigadir J) yang kini menyeret pelaku Irjen Ferdy Sambo dan istri, Putri Chandrawati, sempat heboh pernyataan pengacara Kamaruddin Simanjuntak perihal otak jenazah pindah ke bagian perut dari proses autopsi.

Kabar terbaru, tim forensik akhirnya selesai melakukan autopsi ulang dan menyerahkan hasilnya ke Bareskrim Polri, Senin siang (22/8/2022).

Ketua Tim Dokter Forensik gabungan Ade Firmansyah Sugiharto menjelaskan, perihal otak pindah ke bagian perut adalah hal wajar dalam ranah forensik. Menurutnya, pemindahan organ tubuh tersebut bertujuan mencegah rembes atau kebocoran bagian tertentu.

"Memang ada hal-hal yang harus dilakukan untuk mencegah adanya kebocoran atau apa, karena banyak luka-luka di tubuh korban. Yang jelas tidak ada organ yang hilang dari tubuh korban, dan semua dikembalikan ke tubuh jenazah," ungkap Ade dalam konferensi pers, Senin (22/8).

"Jadi dikembalikan ke tubuh. Tapi dengan pertimbangan itu tadi, karena jenazah akan ditransportasikan, sehingga harus dilakukan beberapa tindakan yang seperti tadi, ditempatkan ke tempat-tempat agar tidak mengalami berceceran segala macam," imbuhnya.

Hal senada sempat disampaikan oleh ahli kedokteran forensik dari Universitas Indonesia, dr Budi Sampurna. Menurutnya, pemindahan letak otak pasca autopsi sebenarnya lumrah dilakukan di beberapa negara, misalnya di Jerman, Amerika, dan Belanda.

Namun memang, setiap negara bisa memiliki prosedur dan tata cara autopsi berbeda, tergantung pada agama dan tradisi. Umumnya di Indonesia, jaringan tubuh dikembalikan ke tempat semula setelah autopsi.

"Karena kepala itu sudah dipotong tulangnya. Kalau otak itu nanti mencair, maka dia bisa merembes ke situ dan bisa keluar," pada detikcom, Selasa (2/8).

"Oleh karena itu mereka mengatakan, kalau di kami, tidak kita masukkan kembali ke kepala tetapi kepala itu nanti sudah ditutup seperti kapas, atau ada khusus lah semacam kertas ditaruh situ. Kemudian potong lagi tengkoraknya dan boleh ditutup," lanjut dr Budi.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT