Risiko Stunting Juga Dipengaruhi Kesehatan Rongga Mulut

ADVERTISEMENT

Risiko Stunting Juga Dipengaruhi Kesehatan Rongga Mulut

Alethea Pricila - detikHealth
Rabu, 31 Agu 2022 06:52 WIB
The dentist, fully dressed in a protective suit with an eyewear protection is with a patient. A woman in the chair has her mouth opened and examined while holding a suction pump.
Foto: Getty Images/LukaTDB
Jakarta -

Penyelesaian masalah stunting menjadi prioritas yang diperhatikan oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu. Hal ini dilakukan untuk mendukung target Pemprov dan Pemerintah Pusat di tahun 2024. Berdasarkan data prevalensi stunting di Kepulauan Seribu, terdapat 10,17 persen jumlah kasus stunting pada 2019.

Jumlah ini membuat Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu telah melakukan langkah nyata untuk mengatasi penurunan masalah stunting dengan membentuk tim perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi kegiatan penurunan stunting terintegrasi.

Tak hanya stunting, kesehatan mulut anak juga merupakan konsep yang kompleks dan melibatkan berbagai faktor seperti genetik, perilaku, sosial, dan lingkungan. Menurut WHO, sekitar 90 persen penduduk pernah mengalami penyakit gigi, yang sebenarnya bisa dicegah. Selain itu, sekitar 573 juta atau 78 persen anak di dunia, menderita penyakit gigi yang tidak dirawat.

Oleh karena itu, menjaga kesehatan rongga mulut anak merupakan langkah penting yang harus diambil oleh orang tua guna menjaga kesehatan dan pertumbuhan anak secara komprehensif. Mengingat penyakit gigi menimbulkan rasa tidak nyaman yang dapat memengaruhi produktivitas serta kualitas hidup.

Latar belakang ini yang membuat Departemen Ilmu Penyakit Mulut FKG UI yang bekerja sama dengan Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG UI, melakukan kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan pada Jumat (26/8/2022). Kegiatan ini mendapatkan pendanaan dari Hibah Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (Hibah PPM) Universitas Indonesia.

Tujuan dari kegiatan yang bertema "Edukasi Pencegahan dan Tatalaksana Kelainan Rongga Mulut dan Stunting" adalah:

  • Memahami mengenai kurang gizi kronis pada balita
  • Memahami dampak stunting terhadap tumbuh kembang anak
  • Memahami pencegahan terjadinya kasus stunting melalui edukasi cara menjaga kesehatan gigi dan mulut selama kehamilan dan anak hingga usia 2 tahun.
  • Meningkatkan kesadaran khususnya bagi ibu usia produktif terutama ibu hamil untuk memelihara kesehatan gigi dan mulut.

Kegiatan ini dibagi menjadi 2 sesi yaitu sesi pagi dengan sasaran peserta adalah tenaga kesehatan dan kader posyandu, kader PKK, dan dasawisma dengan total peserta 34 orang. Sedangkan sesi siang dengan sasaran peserta pasangan usia subur dan ibu hamil dengan total peserta 17 orang.

Guna membuat acara pengabdian masyarakat ini berjalan dengan lancar, kegiatan ini memiliki jumlah tim 31 orang yang terdiri dari 9 Staf Pengajar Departemen Ilmu Penyakit Mulut FKG UI, 15 Mahasiswa Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (PPDGS) Penyakit Mulut FKG UI, 2 Staf Pengajar Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG UI dan 2 Mahasiswa PPDGS Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG UI.



Simak Video "Pemerintah Alokasikan Anggaran Penurunan Stunting 2022 Rp 25 T"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT