Soal Usul Poligami Cegah HIV, Eks Menkes Nafsiah Mboi: Menyesatkan!

ADVERTISEMENT

Soal Usul Poligami Cegah HIV, Eks Menkes Nafsiah Mboi: Menyesatkan!

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Kamis, 01 Sep 2022 14:10 WIB
Jakarta -

Pernyataan Wakil Gubernur Jawa Barat yang mengusulkan poligami dan pernikahan dini untuk mencegah HIV AIDS belakangan disorot. Banyak yang membantah usulan Uu Ruzhanul Ulum, termasuk Mantan Menteri Kesehatan periode 2012-2014, Nafsiah Mboi.

Menurutnya, alih-alih poligami dan pernikahan dini, pencegahan HIV khususnya pada generasi muda paling efektif melalui pendidikan komunikasi. Sembari diperkuat dengan pendampingan ketahanan mental dan pemberdayaan generasi muda agar tidak 'tergoda' perilaku berisiko HIV.

"Pernyataan Wagub Jabar tidak tepat dan menyesatkan," tegas Nafsiah Mboi dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom Kamis (1/9/2022).

Eks Menkes yang juga menjadi Ketua Pembina Yayasan Kemitraan Indonesia Sehat (YKIS) tersebut menekankan tidak ada bukti ilmiah terkait kaitan di antara poligami, pernikahan dini, dengan mencegah penularan HIV.

"Pernikahan dini di bawah usia 18 tahun termasuk pernikahan anak, merupakan pelanggaran terhadap Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Secara khusus menikahkan remaja perempuan dapat membahayakan kesehatan dan alat reproduksi yang pada akhirnya dapat berakibat buruk pada bayinya," jelas mantan Sekretaris Nasional Komisi Penangggulangan AIDS (KPA) Nasional tersebut.

"Pendidikan wajib 12 tahun sampai dengan tamat SMA juga terbukti sangat efektif mencegah perilaku berisiko tertular HIV pada remaja," sambung dia.

Dalam kesempatan yang sama, Prof Samsuridjal Jauzi, salah seorang pelopor program penanggulangan HIV AIDS di Indonesia mengungkap terjadi perubahan pola penularan HIV dibandingkan awal kasus ditemukan. Gelombang pertama di tahun 1988 hingga 2007, penyebab kasus terbanyak diakibatkan kelompok pengguna narkoba suntik.

Kasus HIV kala itu meningkat dengan cepat lantaran marak penggunaan alat narkoba suntik bersama-sama.

"Program harm reduction atau pengurangan dampak buruk penggunaan narkoba suntik mampu menurunkan prevalensi HIV. Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan dalam dokumen Estimasi dan Proyeksi HIV AIDS di Indonesia Tahun 2019 - 2024 mencatat prevalensi HIV pada pengguna narkoba suntik turun dari 36,0 persen tahun 2007 menjadi 14,7 persen tahun 2019," sebutnya.

Seiringan dengan laporan tersebut, gelombang kedua penularan yang dilaporkan yakni heteroseksual dari laki-laki ke perempuan dan begitupun sebaliknya. Ada risiko penularan dari ibu ke bayi, sejak 2007 kasusnya bahkan terus bertambah.

Menurut Sub Direktorat HIV AIDS dan PIMS Kementerian Kesehatan, ibu hamil yang positif HIV per 2017 mencapai 3.873 kasus, terus meningkat di 2021 sebanyak 4.466 kasus, sementara di Januari 2022 hingga Juli, ditemukan 3.008 kasus.

(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT