Pakar Sebut Pelabelan Galon BPA Ingin Buat Masyarakat Aman

ADVERTISEMENT

Pakar Sebut Pelabelan Galon BPA Ingin Buat Masyarakat Aman

Angga Laraspati - detikHealth
Rabu, 07 Sep 2022 16:04 WIB
Ilustrasi BPA Free
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Dosen dan Peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan Seafast Center - Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr. Nugraha Edhi Suyatma memberikan pandangannya soal rencana label Bisphenol-A (BPA). Ia mengatakan bisa memahami aturan dan regulasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tersebut.

Seperti diketahui, rencana Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk merevisi Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan, khususnya pelabelan (BPA) pada air kemasan galon guna ulang polikarbonat masih jadi perbincangan yang hangat.

"Sebenarnya wacana BPOM ini kan ingin membuat masyarakat Indonesia aman. Niat mulia ini patut kita hargai," kata Nugraha dalam keterangan tertulis, Rabu (7/9/2022).

Hal ini dikatakan Nugraha dalam webinar yang mengundang narasumber dari organisasi lobi AMDK, Asosiasi Perusahaan Air Kemasan Indonesia (ASPADIN), pakar teknologi pangan dan pakar kesehatan, yang diselenggarakan beberapa waktu lalu.

Mengenai pasal revisi terkait regulasi BPOM, Nugraha mengatakan seharusnya semua pihak juga melihat pasal yang menyebutkan ada pengecualian, kalau nantinya tidak terdeteksi limit BPA pada galon polikarbonat yang diperiksa, maka tidak perlu label BPA.

"Kalau nantinya memang tidak terdeteksi, karena deteksi limit pada kemasannya nanti hanya 0,01 mg.kg, maka seharusnya tidak perlu lagi mencantumkan label 'Berpotensi Mengandung BPA'," ujar Nugraha.

Rancangan regulasi pelabelan BPA pada AMDK galon guna ulang polikarbonat dilakukan pasca BPOM menyelenggarakan survei lapangan yang dilakukan sepanjang 2021-2022 terhadap AMDK galon, baik di sarana produksi maupun peredaran.

Berdasar survei di lapangan itu, BPOM menemukan fakta 3,4 persen sampel di sarana peredaran tidak memenuhi syarat batas maksimal migrasi BPA, yakni 0,6 bpj (bagian per juta).

Selanjutnya, ditemukan fakta 46,97 persen sampel di sarana peredaran dan 30,91 persen sampel di sarana produksi sudah masuk kategori 'mengkhawatirkan', atau BPA-nya berada di kisaran 0,05 bpj sampai 0,6 bpj.

Ditemukan juga fakta ada 5 persen sampel di sarana produksi (galon baru) dan 8,67 persen di sarana peredaran yang sudah masuk kategori 'berisiko terhadap kesehatan' sebab BPA-nya berada di atas 0,01 bpj.

Sebagai lembaga yang berwenang menilai mutu, keamanan, dan kesehatan pangan, BPOM pun wajib menyampaikan informasi kepada masyarakat luas, agar terhindar dari bahaya paparan BPA pada AMDK galon guna ulang polikarbonat.

(ega/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT