Ketua Komnas PA Sebut Perlu Ada Jaminan Galon AMDK Bebas BPA

ADVERTISEMENT

Ketua Komnas PA Sebut Perlu Ada Jaminan Galon AMDK Bebas BPA

Jihaan Khoirunnisaa - detikHealth
Rabu, 07 Sep 2022 17:05 WIB
Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait
Foto: Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait (Nahda/detikcom)
Jakarta -

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait mendukung rencana Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk merevisi Peraturan Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan. Khususnya pelabelan Bisphenol-A (BPA) pada air kemasan galon guna ulang polikarbonat.

Arist menekankan perlu ada jaminan galon guna ulang bebas dari senyawa BPA. Hal ini demi melindungi kesehatan bayi dan anak-anak.

"Kalau belum bisa memberikan label 'Free BPA', setidaknya mesti ada larangan bagi bayi dan balita untuk tidak minum air mineral dari galon guna ulang," kata Arist dalam keterangan tertulis, Rabu (7/9/2022).

Ia menjelaskan Komnas PA sejalan dengan BPOM untuk menyelamatkan janin, bayi dan anak-anak dari bahaya paparan BPA.

"Komnas Perlindungan Anak akan terus mendukung BPOM supaya pihak industri tidak dominan menyebabkan kerusakan pada masa depan anak-anak," ujarnya.

Arist pun mendorong agar para pelaku industri air minum dalam kemasan (AMDK) galon polikarbonat bersikap jujur dan mau memberikan jaminan keselamatan dan kesehatan produk dengan pelabelan.

"Apa sih masalahnya bagi industri sekadar memberikan informasi dan edukasi untuk membantu masyarakat?," katanya.

Sementara itu dosen dan peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan Seafast Center - Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr. Nugraha Edhi Suyatma menilai regulasi BPOM tentang pelabelan BPA pada galon merupakan upaya untuk menjamin keamanan masyarakat.

"Sebenarnya wacana BPOM ini kan ingin membuat masyarakat Indonesia aman. Niat mulia ini patut kita hargai," kata Nugraha.

Sebagaimana diketahui, rancangan regulasi pelabelan BPA pada AMDK galon guna ulang polikarbonat dilakukan pasca-BPOM menyelenggarakan survei terhadap AMDK galon, baik di sarana produksi maupun peredaran. Hasilnya ditemukan 3,4 persen sampel di sarana peredaran tidak memenuhi syarat batas maksimal migrasi BPA, yakni 0,6 bpj (bagian per juta).

Selanjutnya, ditemukan fakta bahwa 46,97 persen sampel di sarana peredaran dan 30,91 persen sampel di sarana produksi sudah masuk kategori 'mengkhawatirkan'. Artinya migrasi senyawa BPA sudah berada di kisaran 0,05 bpj sampai 0,6 bpj.

Tidak hanya itu saja, survei BPOM menunjukkan 5 persen sampel di sarana produksi (galon baru) dan 8,67 persen di sarana peredaran yang sudah masuk kategori 'berisiko terhadap kesehatan', dengan migrasi BPA-nya berada di atas 0,01 bpj.



Simak Video "Aktivis Lingkungan Kritisi Penggunaan Galon Sekali Pakai"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT