Dikaitkan Normalisasi Tak Balas WA di Luar Jam Kerja, Ini Dampak Quiet Quitting

ADVERTISEMENT

Dikaitkan Normalisasi Tak Balas WA di Luar Jam Kerja, Ini Dampak Quiet Quitting

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Sabtu, 17 Sep 2022 15:03 WIB
Twitter
Foto: Ilustrasi media sosial (Getty Images/bombuscreative)
Jakarta -

Heboh di media sosial normalisasi tak membalas pesan melalui aplikasi WhatsApp di luar jam kerja. Tak sedikit netizen yang menyebut hal ini sangat penting diterapkan untuk mencapai work-life balance alias menyeimbangkan kehidupan pribadi dan pekerjaan.

"Yuk bisa yuk quite quitting," tulis salah satu pengguna Twitter.

Istilah quiet quitting mengacu pada perilaku dalam bekerja yang serba minimalis, mengerjakan apa yang hanya ditugaskan, serta tak menerima lembur.

Psikolog klinis dan Co-Founder Ohana Space Veronica Adesla menyebut belum ada definisi baku dari istilah quiet quitting. Namun menurutnya salah satunya adalah perilaku membatasi diri dalam bekerja secara sehat untuk membantu mengurangi burnout.

"Memang belum ada definisi yang jelas ada yang mengartikan sebagai tidak bekerja lebih atau kurang dari jobdesk kerjanya, ada juga yang mengartikan bekerja sesuai dengan jam kerja dan tidak bekerja di luar jam kerja, dan ada juga yang mengartikan membuat batasan tidak menerima pekerjaan tambahan," ucap Vero saat dihubungi detikcom, Kamis (1/9/2022).

Adakah Dampaknya?

Menurut Veronica, quiet quitting bisa jadi berdampak negatif kepada seseorang jika dilakukan berlebihan. Bahkan jika tidak diterapkan secara bijak, quiet quitting justru bisa mengganggu karier seseorang.

"Apabila quite quitting diartikan sebagai membatasi diri hanya untuk melakukan pekerjaan yang menjadi jobdesknya tanpa mau mengembangkan diri lebih, belajar hal baru, dan terlibat lebih ataupun memberikan kontribusi lebih untuk perusahaan melalui ide-ide pemikiran maupun peningkatan kompetensi yang dimiliki maka hal ini dapat berdampak pada kariernya dalam jangka panjang," beber Vero.

Bukan hanya karier, lebih jauh menurut Vero, seseorang yang sudah burnout atau tidak memiliki minat lebih dari pekerjaanya bisa mengalami dampak psikologis.

"Pekerjaan merupakan bagian dari aktualisasi diri maka tentu hal ini dalam jangka panjang juga akan berdampak juga secara psikologis menyangkut kesejahteraan psikologis dan kualitas hidupnya, antara lain kepercayaan diri, kepuasan diri, kebermaknaan diri, pemaknaan hidup dan kondisi emosional," pungkasnya.



Simak Video "Quiet Quitting Tren Kerja Seperlunya, Apa Sih Itu?"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT