Penyebab 130 Tewas di Kanjuruhan, Dokter Kaitkan Gas Air Mata dengan Sesak Napas

ADVERTISEMENT

Penyebab 130 Tewas di Kanjuruhan, Dokter Kaitkan Gas Air Mata dengan Sesak Napas

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Minggu, 02 Okt 2022 12:18 WIB
This picture taken on October 1, 2022 shows security personnel (lower) on the pitch after a football match between Arema FC and Persebaya Surabaya at Kanjuruhan stadium in Malang, East Java. - At least 127 people died at a football stadium in Indonesia late on October 1 when fans invaded the pitch and police responded with tear gas, triggering a stampede, officials said. (Photo by AFP) (Photo by STR/AFP via Getty Images)
Foto: AFP via Getty Images/STR
Jakarta -

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang drg Wiyanto Wijoyo mengungkapkan penyebab kematian ratusan suporter di Stadion Kanjuruhan diduga karena sesak napas.

"Situasi panik karena chaos dan terinjak-injak. Kalau secara medis karena sesak napas," katanya.

Terkini, sebanyak 130 suporter dilaporkan meninggal dan 180-an orang mengalami luka-luka akibat insiden tersebut. Penggunaan gas air mata dalam kasus yang terjadi di Kanjuruhan disebut memperparah kondisi massa.

Gas air mata adalah bahan kimia yang menyebabkan iritasi kulit, pernapasan, dan mata. Beberapa bahan kimia yang paling umum digunakan adalah chloroacetophenone (CN), chlorobenzylidenemalononitrile (CS), chloropicrin (PS), bromobenzylcyanide (CA) dan dibenzoxazepine (CR).

Secara umum, paparan gas air mata dapat menyebabkan sesak dada, batuk, rasa tercekik, mengi dan sesak napas, selain rasa terbakar pada mata, mulut dan hidung; penglihatan kabur dan kesulitan menelan.

"Gejala dari hidung berair, rasa terbakar di hidung dan tenggorokan, batuk, dahak, nyeri dada, sesak napas," kata dr Agus saat diwawancarai detikcom, Minggu (2/10/2022).

Dikutip dari laman American Lung Association, gas air mata juga dapat menyebabkan luka bakar kimia, reaksi alergi, dan gangguan pernapasan.

Orang dengan kondisi pernapasan yang sudah ada sebelumnya, seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala penyakit parah yang dapat menyebabkan gagal napas.

Efek kesehatan jangka panjang dari gas air mata lebih mungkin terjadi jika terpapar dalam waktu lama atau dalam dosis tinggi saat berada di area tertutup. Dalam kasus ini, dapat menyebabkan kegagalan pernapasan dan kematian.



Simak Video "Kemenkes Sempat Kesulitan Identifikasi Korban Tragedi Kanjuruhan"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT