Disorot di Tragedi Kanjuruhan, Ini 4 Fakta Gas Air Mata

ADVERTISEMENT

Disorot di Tragedi Kanjuruhan, Ini 4 Fakta Gas Air Mata

Fadilla Namira - detikHealth
Minggu, 02 Okt 2022 20:00 WIB
Gas Air Mata Tragedi Kanjuruhan: Aturan FIFA dan Penjelasan Polisi
Kerusuhan di Kanjuruhan Malang. Foto: AFP via Getty Images/STR
Jakarta -

Insiden yang melibatkan suporter Arema tadi malam menambah daftar kelam tragedi kemanusiaan di ranah pendukung sepak bola Indonesia. Dari kejadian tersebut, menurut data Kementerian Kesehatan RI hingga pukul 14:53, setidaknya ada 131 orang korban jiwa dalam insiden di Stadion Kanjuruhan, Malang, tersebut.

Hal ini bermula dari keputusan polisi yang menembakan gas air mata saat aksi rusuh suporter Arema masuk ke lapangan tersebut usai timnya kalah melawan Persebaya. Tembakan gas air mata membuat massa panik, berlarian, dan terinjak-injak.

Dikutip dari Centers for Disease Control and Prevention, gas air mata atau riot control agents adalah senyawa kimia berbentuk partikel cairan halus dan dapat menyebar melalui udara. Bila terpapar, umumnya efek yang ditimbulkan tidak berlangsung lama, hanya 15-30 menit.

Dokter spesialis paru dari RS Paru Persahabatan, dr Agus Dwi Susanto, mengatakan paparan dari gas air mata bisa memicu iritasi pada hidung saluran pernapasan bawah.

"Gejala dari hidung berair, rasa terbakar di hidung dan tenggorokan, batuk, dahak, nyeri dada, dan sesak napas," kata dr Agus saat diwawancarai detikcom, Minggu (2/10/2022).

Untuk penjelasan lebih lanjut, simak fakta-fakta gas air mata yang telah dirangkum detikcom berikut ini:

1. Merusak Organ Tubuh

Lebih lanjut, dr Agus menambahkan gas air mata bisa memengaruhi kerusakan organ tubuh karena kekurangan oksigen dan mengancam jiwa.

"Seseorang yang mengalami kondisi kekurangan oksigen dalam 40 sampai 60 detik akan tidak sadar dan bila berlanjut dapat menyebabkan kondisi yang berbahaya dan mengancam jiwa," kata dr Agus kepada detikcom, Minggu (2/10).

Dikutip dari Healthline, asfiksia atau mati lemas terjadi ketika tubuh tidak mendapatkan cukup oksigen. Tanpa intervensi segera, dapat menyebabkan hilangnya kesadaran, cedera otak, atau kematian.

Selain itu, ia memberikan masalah kesehatan jangka panjang jika terpapar dalam waktu lama, terutama di area tertutup. Gejala yang timbul cukup signifikan dan berbahaya, seperti:

  • Kebutaan.
  • Glaukoma.
  • Kematian mendadak karena luka bakar di tenggorokan dan paru-paru.

2. Mengandung Banyak Senyawa Kimia

Kandungan senyawa kimia yang umum dipakai dari gas air mata adalah chlorobenzylidenemalononitrile (CS), chloroacetophenone (CN), bromobenzilsianida (CA), Chloropicrin (PS), dan benzodiazepine (CR) dengan kombinasi dari beberapa bahan lainnya.

Senyawa CS merupakan salah satu bahan yang mengaktifkan reseptor di tubuh dan berhubungan dengan rasa sakit. Namun, ini bukan satu-satunya yang digunakan dalam gas air mata.

3. Pasta Gigi Bukan Penangkal yang Efektif

Massa biasanya menggunakan odol atau pasta gigi untuk mengantisipasi rasa perih dari gas air mata. Nyatanya, odol tidak berperan dalam fungsi tersebut.

Anggota Perhimpunan Dokter Emergency Indonesia, dr Wisnu Pramudito D Pusponegoro, SpB, membeberkan realitas kalau penggunaan odol di wajah termasuk di sekitar mata untuk menghindari efek perih gas air mata justru memicu iritasi.

"Odol nggak ngaruh sebenarnya. Gas air mata bekerjanya karena terhirup, bukan kontak dengan mata. Efek gas air mata itu kan terhirup yang menyebabkan sekresi dari kelenjar air mata," jelas dr Wisnu.

4. Larutan Soda Kue dan Susu Bukan Solusi

Beberapa pendapat bahwa larutan soda kue ataupun susu dapat melemahkan molekul dalam gas air mata dan mencegah risiko paparan. Faktanya, para ahli mengingatkan kedua cairan ini tidak steril dan menyebabkan infeksi.

Sebaiknya setiap kulit yang terpapar harus dicuci segera memakai sabun dan mata dibilas menggunakan air steril atau larutan garam.

Segera tinggalkan area yang terkontaminasi gas air mata dan cari udara segar di ruang terbuka. Sebab, hal tersebut sangat efektif dalam mengurangi dampak paparannya. Bila alami sesak napas, gunakan obat-obatan asma guna penanggulangan awal, seperti bronkodilator, inhaler, dan steroid.



Simak Video "Kata Ahli soal Gas Air Mata Sebabkan Kematian di Tragedi Kanjuruhan"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT