Ke-trigger Video Viral Tragedi Kanjuruhan, Bagaimana Agar Tak Anxious?

ADVERTISEMENT

Ke-trigger Video Viral Tragedi Kanjuruhan, Bagaimana Agar Tak Anxious?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Selasa, 04 Okt 2022 18:30 WIB
Para suporter sepakbola di Bandar Lampung menyalakan lilin disekitar spanduk bertuliskan
Foto: Para suporter sepakbola di Bandar Lampung menyalakan lilin disekitar spanduk bertuliskan
Jakarta -

Foto dan video terkait kronologi tragedi Kanjuruhan kini marak beredar di linimasa dunia maya. Seiring ungkapan duka yang dilayangkan publik, ada juga konten-konten berisi korban usia anak-anak, atau korban dalam kondisi terluka dan berdarah-darah. Lantas jika timbul rasa cemas dan takut melihat konten tersebut, sebaiknya bagaimana menyikapinya?

Psikolog klinis dan founder pusat konsultasi Anastasia and Associate, Anastasia Sari Dewi, mengingatkan, penting untuk berempati sebelum mempertontonkan konten bersifat sadis. Sebab selain bisa memicu rasa takut dan cemas, konten tersebut juga bisa memicu rasa tidak nyaman pada orang-orang yang ikut terimbas musibah tersebut.

Kepada orang-orang yang cemas dan ketakutan melihat konten-konten bersifat ngeri, Sari menganjurkan untuk menyaring kiriman foto dan video di grup-grup obrolan.

"Ketakutan dan kecemasan juga muncul sehingga cara menyikapinya mulai dari sekarang biasakan punya WhatsApp atau apa pun itu, media sosial atau alat komunikasi lebih baik punya settingan untuk filter. Tidak semua foto atau video yang masuk langsung terbuka. Perlu di-download dulu misalkan baru bisa dibuka," jelasnya pada detikcom, Senin (3/10/2022).

"Karena kita nggak bisa mengontrol semua orang atau marah-marahin orang di grup. Mereka punya pilihan masing-masing. Jadi lebih baik kita sendiri yang menjaga yang masuk ke kepala kita atau penglihatan kita dengan cara seperti itu," sambung Sari.

Perlukah Menjauhkan Diri dari Medsos Sementara Waktu?

Alih-alih menarik dari dari media sosial, Sari menganjurkan publik untuk secara tegas menyaring konten-konten yang beredar. Jika merasa perlu, grup-grup obrolan yang kerap membagikan foto dan video ngeri bisa ditinggalkan. Sebab jika kebutuhannya adalah untuk pemenuhan informasi, publik cukup mengandalkan media berita.

"Instead of menjauhi media sosial dan sebagainya, setahu saya kalau di media sosial dari kanal berita resmi itu mereka tidak mempertontonkan jenazah karena sudah ada etikanya. Tidak boleh mempertontonkan seperti itu," jelas Sari.

"Kalau dari WhatsApp, Telegram, itu seringkali ada yang suka update berita-berita tanpa sensor. Itu lebih baik antara leave group yang model seperti itu, atau kalau masih butuh beritanya, kronologinya, setidaknya gunakanlah fitur aplikasi tersebut untuk tidak langsung mempertontonkan foto atau videonya. Cukup tahu berita, tidak perlu melihat hal-hal menyedihkan dan mengerikan," pungkasnya.



Simak Video "Kemenkes Sempat Kesulitan Identifikasi Korban Tragedi Kanjuruhan"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT