Kecepatan berpikir dibutuhkan oleh seseorang untuk memroses informasi baru yang didapatkannya. Lemot atau lambat berpikir akan berpengaruh dalam proses informasi yang diperoleh.
Dikutip dari Scientific American, menurut Geoffrey A Kerchner, seorang asisten profesor neurologi dan ilmu neurologis di Stanford University School of Medicine, mengatakan bahwa kecepatan pemrosesan berarti laju di mana manusia dapat mengambil sedikit informasi baru, mecapai beberapa penilaian di atasnya dan merumuskan respons.
Menurut studi, kecepatan proses berpikir ini dipengaruhi oleh usia yang semakin bertambah di sepanjang kurva U terbalik, sehingga pemikiran semakin cepat dari masa anak-anak ke remaja, stabil di usia dewasa atau pertengahan, dan melambat di fase usia akhir pertengahan hingga akhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyak orang yang lanjut usia, membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan masalah atau mengambil keputusan dibandingkan ketika usia muda. Namun, perlambatan terkait usia ini bervariasi setiap orang.
Faktanya, tak hanya usia tua, banyak usia muda yang juga lemot atau lambat proses berpikir. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor kebiasaan buruk yang dapat menurunkan kecepatan pemrosesan informasi pada otak.
Berikut kebiasaan-kebiasaan yang bikin otak jadi lemot di usia muda dikutip dari Harvard Health Publishing:
1. Banyak Duduk
Rata-rata orang dewasa duduk selama enam setengah jam per hari. Sebuah studi tahun 2018 di The Public Library of Science atau PLOS, terlalu banyak duduk berpengaruh pada perubahan bagian bagian otak yang penting untuk memori.
Para peneliti menggunakan pemindaian MRI untuk melihat MTL atau lobus temporal medial, yakni daerah otak yang membuat memori baru. Mereka membandingkan pemindaian dengan jumlah duduk rata-rata jam per hari. Orang yang duduk lebih lama memiliki MTL lebih tipis. Penipisan MTL ini dapat menyebabkan penurunan kognitif dan demensia.
Untuk mencegah duduk terlalu lama, lakukan gerak berpindah setelah 15 hingga 30 menit duduk. Bisa dengan berjalan di sekitar rumah atau gerakan seperti push-up pada meja.
2. Terlalu Lama Sendiri
Terlalu lama sendiri dan kurang bersosialisasi berkaitan dengan depresi dan risiko yang lebih tinggi untuk alzheimer dan mempercepat menurunan kognitif. Sebuah studi tahun 2021 di Jurnal Gorontologi menemukan bahwa orang yang kurang aktif secara sosial akan kehilangan lebih banyak materi abu-abu di otak, yakni lapisan luar otak yang memproses informasi.
Dua atau tiga orang sebetulnya cukup untuk berinteraksi dan berbagi apa saja. Tak hanya dengan bertemu secara langsung, melalui pesan singkat atau pesan suara dan video juga bisa berpengaruh untuk menghilangkan rasa kesepian.
3. Kurang Tidur
Menurut Centers of Desease Control and Prevention CDC, sepertiga orang dewasa mendapatkan tujuh hingga delapan jam tidur yang direkomendasikan. Keterampilan kognitif seperti memori, penalaran, pemecahan masalah, menurun ketika orang tidur kurang dari tujuh jam sehari.
Untuk mengatasinya, jangan fokus untuk tidur lebih banyak, tapi berikan lebih banyak waktu untuk tidur. Tidurlah satu jam lebih awal biasanya. Hindari TV atau ponsel yang dapat merangsang.
4. Stres
Stres dapat membunuh sel-sel otak dan menyusut korteks prefrontal, area yang menampung memori dan pembelajaran. Pola pikir ekspektasi yang tinggi dapat memicu reaksi negatif yang meningkatkan tingkat stres ketika hal-hal berjalan sesuai ekspektasi.
Bersikap fleksibel dapat membantu. Ketika pemicu stres datang, temukan cara untuk menenangkan diri sebelum lepas kendali.
5. Pakai Headphone Terlalu Kencang
Pakai headphone dengan volume penuh dapat merusak pendengaran secara permanen hanya dalam 30 menit. Tak hanya itu, pada orang dewasa yang lebih tua, hal ini juga berpengaruh pada otak, karena otak harus bekerja sangat keras untuk memahami dan menyimpan informasi pada memori.
Matikan headphone atau dengarkan suara dengan maksimal 60 persen dari volume perangkat. Tak hanya itu, cobalah untuk tidak mendengarkan lebih dari beberapa jam sekaligus.
6. Terlalu Lama di Tempat Gelap
Cahaya matahari dapat membantu otak bekerja dengan baik. Jika otak tidak mendapatkan cahaya yang cukup, dapat memicu depresi dan memperlambat kerja otak.
Simak Video "Video Momen Pasien Parkinson Main Klarinet saat Operasi Otak"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)











































