Xi Jinping Ketar-ketir Makin Banyak Wanita Ogah Kawin, Ini Dampaknya

ADVERTISEMENT

Xi Jinping Ketar-ketir Makin Banyak Wanita Ogah Kawin, Ini Dampaknya

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Senin, 17 Okt 2022 12:07 WIB
Chinas President Xi Jinping and Russian President Vladimir Putin pose with Mongolias President during their trilateral meeting on the sidelines of the Shanghai Cooperation Organisation (SCO) leaders summit in Samarkand on September 15, 2022. (Photo by Alexandr Demyanchuk / SPUTNIK / AFP) (Photo by ALEXANDR DEMYANCHUK/SPUTNIK/AFP via Getty Images)
Presiden China Xi Jinping. (Foto: Alexandr Demyanchuk/SPUTNIK/AFP/Getty Images)
Jakarta -

Presiden China Xi Jinping akan memberlakukan kebijakan ketat untuk meningkatkan angka kelahiran penduduk. China saat ini sedang menghadapi penurunan tingkat kelahiran penduduk terbesar sepanjang sejarah.

"Kami akan membangun sistem kebijakan untuk meningkatkan angka kelahiran dan mengejar strategi nasional proaktif dalam menanggapi penuaan populasi," kata Xi kepada sekitar 2.300 delegasi dalam pidato pembukaan Kongres Partai Komunis sekali dalam lima tahun di Beijing, dikutip dari Reuters.

Selama sekitar satu tahun terakhir, pihak berwenang telah memperkenalkan langkah-langkah seperti pengurangan pajak, cuti hamil yang lebih lama, asuransi kesehatan yang ditingkatkan, subsidi perumahan, uang tambahan untuk anak ketiga dan tindakan keras terhadap les privat yang mahal.

Namun dalam survei yang diterbitkan pada Februari oleh think-tank YuWa Population Research, keinginan di antara wanita China untuk memiliki anak adalah yang terendah di dunia.

Dampak Resesi Seks

Dalam beberapa dekade, ahli demografi memperkirakan akan ada lebih banyak kakek-nenek daripada cucu imbas dari penurunan angka kelahiran.

"Di masa mendatang hanya akan ada sedikit anak-anak dan banyak manula, dan ini akan sangat sulit untuk mempertahankan masyarakat global," kata Direktur Institute for Health Metrics and Evaluation di University of Washington, Christopher Murray.

"Coba pikirkan dampak sosial dan ekonomi pada masyarakat di mana jumlah kakek-nenek lebih banyak daripada jumlah cucu-cucu," lanjutnya.

Penurunan angka kelahiran berarti di masa depan, populasi orang tua akan lebih banyak dari usia produktif. Pada negara yang angka kelahirannya rendah, pemerintah harus memikirkan cara merawat populasi yang kebanyakan sudah lanjut usia.



Simak Video "China Longgarkan Sederet Aturan di Tengah Tsunami Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT