Wanita China Paling Ogah Punya Anak, 'Resesi Seks' Bikin Populasi Terus Menyusut

ADVERTISEMENT

Wanita China Paling Ogah Punya Anak, 'Resesi Seks' Bikin Populasi Terus Menyusut

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Senin, 17 Okt 2022 07:35 WIB
BEIJING, CHINA -MAY 30: Office workers wait in line to show their health codes and proof of 48 hour negative nucleic acid test, outside an office building after some people returned to work, in the Central Business District on May 30, 2022 in Beijing, China. China is trying to contain a spike in coronavirus cases in Beijing after hundreds of people tested positive for the virus in recent weeks. Local authorities have initiated mass testing, mandated proof of a negative PCR test within 48 hours to enter many public spaces, closed schools and  banned gatherings and inside dining in all restaurants, and locked down many neighborhoods in an effort to maintain the countrys zero COVID strategy. Due to improved control and lower numbers of new cases and reduced spread, municipal officials from Sunday permitted the easing of some restrictions to allow for limited return to office, resumption of public transport, and the re-opening of many shopping malls, parks, and scenic spots with limited capacity in some districts. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images)
Foto: Getty Images/Kevin Frayer
Jakarta -

Imbas 'resesi seks' atau turunnya gairah berhubungan seks, menikah, atau memiliki anak, China bakal memberlakukan kebijakan baru untuk meningkatkan angka kelahiran. Presiden Xi Jinping pada Minggu (16/10/2022) menyebut penurunan populasi China merugikan negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

"Kami akan membangun sistem kebijakan untuk meningkatkan angka kelahiran dan mengejar strategi nasional proaktif dalam menanggapi penuaan populasi," kata Xi kepada sekitar 2.300 delegasi dalam pidato pembukaan Kongres Partai Komunis sekali dalam lima tahun di Beijing, dikutip dari Reuters.

Meski China memiliki populasi terbanyak di dunia yakni 1,4 miliar orang, angka kelahiran akan kembali mencetak rekor terendah tahun ini. Ahli demografi menyebut turun di bawah 10 juta dari 10,6 juta bayi tahun lalu, penurunan terjadi 11,5 persen dari 2020.

Otoritas setempat memberlakukan kebijakan satu anak dari tahun 1980 hingga 2015, kemudian beralih ke kebijakan tiga anak, mengakui bahwa negara tersebut berada di ambang penurunan demografis.

Tingkat kesuburan per tahun 2021 berada di 1,16, di bawah standar 2,1 OECD untuk populasi yang stabil dan termasuk yang terendah di dunia.

Selama sekitar satu tahun terakhir, pihak berwenang telah memperkenalkan langkah-langkah seperti pengurangan pajak, cuti hamil yang lebih lama, asuransi kesehatan yang ditingkatkan, subsidi perumahan, uang tambahan untuk anak ketiga dan tindakan keras terhadap les privat yang mahal.

Namun, keinginan di antara wanita China untuk memiliki anak adalah yang terendah di dunia, sebuah survei yang diterbitkan pada bulan Februari oleh think-tank YuWa Population Research menunjukkan temuan tersebut.

Demografer mengatakan langkah-langkah yang diambil sejauh ini tidak cukup. Mereka menyebut biaya pendidikan tinggi, upah rendah, dan jam kerja yang sangat panjang sebagai masalah yang masih perlu ditangani, bersama dengan kebijakan COVID-19 dan kekhawatiran pertumbuhan ekonomi.

Lihat juga video 'Kisah Para Petani China Lulusan Perguruan Tinggi':

[Gambas:Video 20detik]



(naf/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT