L'Oreal Digugat, Produk Pelurus Rambutnya Diklaim Picu Kanker Rahim

ADVERTISEMENT

L'Oreal Digugat, Produk Pelurus Rambutnya Diklaim Picu Kanker Rahim

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Rabu, 26 Okt 2022 12:55 WIB
Jakarta -

Perusahaan kosmetik L'Oréal digugat lantaran pelurus rambutnya diklaim memicu kanker rahim. Seorang wanita berusia 32 tahun asal Missouri, Amerika Serikat, menyebut jika kanker rahim yang menyerang dirinya diakibatkan penggunaan pelurus rambut L'Oréal yang digunakan dalam jangka panjang.

Pengacara wanita tersebut, mengutarakan paparan ftalat dan bahan kimia dalam produk L'Oréal adalah pemicunya. Wanita bernama Jennifer Mitchell itu didiagnosis kanker rahim 2018 silam, setelah menggunakan produk pelurus rambut L'Oréal sejak tahun 2000.

Dia meminta L'Oreal membayar ganti rugi berupa uang yang tidak ditentukan dan membayar perawatan medis dirinya, gugatan ini disampaikan dalam pengadilan di AS. Diandra Debrosse Zimmermann, seorang pengacara untuk Mitchell, mengatakan perusahaannya sudah memiliki klien lain dengan keluhan serupa.

Menurutnya, akan berdatangan lebih banyak tuntutan kepada L'Oréal terkait risiko kanker rahim tersebut.

"Banyak wanita akan maju dalam beberapa minggu dan bulan mendatang untuk meminta pertanggungjawaban," sebutnya, dikutip dari Reuters, Rabu (26/10/2022).

L'Oréal hingga kini belum memberikan respons terkait gugatan tersebut.

Kanker rahim adalah kanker ginekologi paling umum di Amerika Serikat, menurut data pemerintah federal, terutama di kalangan wanita kulit hitam. Peneliti NIEHS Che-Jung Chang mengatakan pekan lalu bahwa studi baru yang belum lama ini dirilis, terkait keterkaitan kanker rahim dengan pelurus rambut, bisa sangat relevan terhadap kasus tersebut.

Terlebih, wanita kulit hitam cenderung sering menggunakan pelurus rambut di usia lebih dini daripada orang-orang dari ras lain.

Mitchell, yang berkulit hitam, menuduh L'Oreal sengaja memasarkan produk pelurus rambut kepada perempuan dan anak perempuan kulit hitam dan gagal memperingatkan risiko, meskipun mengetahui setidaknya sejak 2015, produk tersebut mengandung bahan kimia yang berpotensi berbahaya.

"Perusahaan mendapatkan keuntungan secara signifikan dari perilaku tidak etis dan ilegal yang menyebabkan penggugat membeli dan terbiasa menggunakan produk yang berbahaya dan cacat," kata gugatan itu.

(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT