Pakar: Etilen Glikol di Obat & Kemasan Plastik Tidak Bisa Dibandingkan

ADVERTISEMENT

Pakar: Etilen Glikol di Obat & Kemasan Plastik Tidak Bisa Dibandingkan

Erika Dyah - detikHealth
Kamis, 27 Okt 2022 16:48 WIB
botol plastik
Foto: Getty Images/iStockphoto/deepblue4you
Jakarta -

Masyarakat dibuat geger dengan isu bahan kimia 'etilen glikol' pada sirop obat batuk yang berdampak pada Kesehatan ginjal. Hal ini pun dikaitkan dengan kemasan galon plastik Polyethylene Terephthalate (PET) yang membuat masyarakat awam bingung.

Isu senyawa kimia 'etilen glikol' yang terdapat di dalam campuran sirop obat batuk di Indonesia ini dihubung-hubungkan dengan kemasan galon plastik PET. Padahal, kemasan botol plastik air mineral PET justru yang terbesar peredarannya di Indonesia. Bukan galon PET yang jumlahnya sangat kecil.

Hal ini membuat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) harus membatalkan regulasi pelabelan galon polikarbonat yang mengandung senyawa berbahaya Bisphenol A (BPA). Serta memberi label pada galon PET.

Pakar Teknologi Polimer Departemen Metalurgi dan Material FTUI, Prof. Mochamad Chalid menjelaskan bahan kimia etilen glikol yang terdapat di dalam sirop obat batuk yang diminum anak-anak di negara Gambia, Afrika, dan Indonesia berbeda dengan etilen glikol yang dijadikan campuran untuk pembuatan kemasan plastik PET galon dan botol air mineral sekali pakai.

Menurutnya, efeknya sangat jauh berbeda. Etilen glikol dalam kadar melampaui ambang batas dalam sirop obat batuk itu langsung diminum dan diduga menjadi racun. Sementara etilen glikol pada kemasan galon atau botol PET relatif sangat aman, karena tidak mudah luruh dan tidak digunakan berulang.

Ia menegaskan hal ini berbeda dengan galon guna ulang polikarbonat yang mengandung senyawa Bisphenol A (BPA) dan secara internasional diklaim memang berbahaya.

"Masyarakat tidak perlu panik atau cemas, karena senyawa etilen glikol pada sirop obat tersebut adalah zat tambahan untuk mendorong beberapa elemen lain agar mudah bercampur, jadi senyawanya ada di dalam produk dan bukan pada kemasannya," kata Chalid dalam keterangan tertulis, Kamis (27/10/2022).

"Karena ada di dalam produk sirop obat, maka jelas berbahaya bila dikonsumsi langsung. Senyawa etilen glikol yang dicampur dalam produk sirop obat berbeda interaksinya dengan etilen glikol yang ada pada kemasan plastik galon atau botol air mineral, sehingga tidak bisa dibandingkan secara apple to apple," kata Chalid tegas.

Chalid memaparkan secara sederhana, kemasan galon dan botol PET adalah polimer yang memiliki bahan baku etilen glikol. Prosesnya dibuat dengan menggunakan katalis yang disebut dengan antimon dan seterusnya.

Adapun karakteristik utama etilen glikol akan hilang atau sudah tidak ada lagi pada saat terbentuk PET. Katalisnya pun dalam jumlah sangat sedikit dan aman. Sehingga, dari sisi teknologi, plastik PET aman digunakan untuk kemasan makanan dan minuman.

"Jadi kalau ada pihak yang menuding ada peluruhan dari galon atau botol PET, maka perlu sekalian menyodorkan data-data ilmiah yang mereka punya sebagai bukti pendukung," katanya.

Diketahui, belakangan ini muncul komentar agar BPOM juga melakukan pelabelan terhadap galon PET. Chalid menilai hal ini perlu dilihat lebih jauh tentang siapa yang paling dominan menjadi market leader air minum dalam kemasan (AMDK) botol plastik PET.

Senada, Ketua Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait mengatakan perlu dilakukan penelitian oleh otoritas BPOM jika ada racun bahan-bahan kimia serupa yang ada pada sirop di Indonesia dan kemasan-kemasan (plastik) misalnya.

"BPOM perlu memberikan peringatan berupa pelabelan terhadap kemasan-kemasan pangan berbahan etilen glikol itu," ungkap Arist.

"Soal kemasan apa saja, itu ranah BPOM untuk menentukannya," tambahnya.

Selama ini, Asosiasi Perusahaan Air Minum dalam Kemasan (Aspadin) menolak pelabelan galon guna ulang BPA dengan alasan bisa mematikan industri air minum dalam kemasan.

"Pelabelan galon guna ulang (BPA) ini bagaikan vonis mati bagi industri kami," kata Ketua Umum Aspadin, Rachmat Hidayat.

"Perusahan AMDK bisa rugi Rp 6 triliun, ditambah biaya ganti kemasan dengan galon sekali pakai sekitar Rp10 triliun per tahun," terangnya.

Lantas, apakah industri AMDK bakal mati total jika kemasan botol PET juga dilabeli. Jika plastik pada galon PET tak berbeda dengan botol PET, maka sudah siapkah market leader AMDK jika BPOM mewajibkan seluruh produk botol plastik PET ditempeli label peringatan berbahaya?



Simak Video "Etilen Glikol Pada Kemasan Air Mineral Dipastikan Beda dengan Obat Sirup"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT