Beda dari Siti F Supari, Ini Keyakinan Kemenkes Soal Biang Kerok Gagal Ginjal

ADVERTISEMENT

Beda dari Siti F Supari, Ini Keyakinan Kemenkes Soal Biang Kerok Gagal Ginjal

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Kamis, 27 Okt 2022 17:09 WIB
Jakarta -

Juru bicara Kementerian Kesehatan dr Mohammad Syahril menanggapi komentar eks Menkes dr Siti Fadila Supari mengenai penyebab gagal ginjal akut pada anak. Dijelaskan, kesimpulan mengenai etilen glikol terkait penyebab gagal ginjal ditemukan setelah mengeliminasi dugaan lain termasuk COVID-19.

"Dalam beberapa kesempatan kita sudah menjelaskan bahwa pada saat penelitian kita bersama IDAI dan ahli epidemiologi dan toksikologi, dalam tahapan itu kita menyingkirkan penyebab-penyebab. Salah satu yang kita periksa adalah infeksi termasuk COVID dan Long COVID," jelas dr Syahril dalam konferensi pers, Kamis (27/10/2022).

"Dari data dan pemeriksaan yang kita lakukan, semua menyingkirkan COVID dan long COVID," lanjutnya.

Menguatkan etilen glikol sebagai penyebab gagal ginjal akut, pihak terkait juga melakukan biopsi pada pasien. Hasil biopsi atau pengambilan jaringan tubuh ini menunjukkan adanya etilen glikol.

Selain biopsi, tim peneliti juga menemukan etilen glikol pada urine dan darah pasien. Hasil inilah yang kemudian menyimpulkan dugaan kuat penyebab gagal ginjal akut pada anak adalah etilen glikol.

"Memang ada kerusakan ginjal yang disebabkan kristal oksalat sebagai hasil akhir dari EG/DEG. Oksalat ini yang menghasilkan kristal tajam yang merusak ginjal. Akhirnya dugan itu menjadi kuat setelah di darah kita periksa ada, di urine ada, dan biopsi ginjal," paparnya.

Diberitakan sebelumnya mantan Menkes Siti Supari Fadilah menduga sindrom MIS-C sebagai gejala dari long COVID sebagai salah satu pemicu gagal ginjal akut pada anak. MIS-C atau Multisystem Inflammatory Syndrome in Children adalah kondisi komplikasi COVID-19 yang terjadi pada anak-anak.

Respon imun berlebihan terhadap infeksi COVID-19 menimbulkan produksi sitokin dalam jumlah besar di dalam tubuh sehingga terjadi inflamasi pada berbagai organ salah satunya di ginjal.

"Dan nomer ketiga karena MIS-C, nah ini perpanjangan long COVID sehingga terjadi injury-injury. Keempat ada kemungkinan lagi dianggap tabu, ada hubungannya dengan vaksin COVID-19 atau booster yang diberikan, biasanya memang wajar kalau dirasa yang langsung," tutur dia dalam sesi bincang online Gelora TV, Kamis (26/10).

(kna/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT