Golongan Darah Menentukan Risiko Sakit Jantung? Dokter Kardiologi Angkat Bicara

ADVERTISEMENT

Golongan Darah Menentukan Risiko Sakit Jantung? Dokter Kardiologi Angkat Bicara

Fadilla Namira - detikHealth
Jumat, 28 Okt 2022 11:35 WIB
Diet Berdasarkan Golongan Darah, Ini Makanan yang Bisa Dikonsumsi
Golongan darah menentukan risiko sakit jantung? (Foto: Getty Images/iStockphoto/Mixmike)
Jakarta -

Kaitan antara golongan darah dan penyakit jantung masih ramai dipercaya oleh masyarakat hingga sekarang. Namun, dokter ahli jantung meyakini hal itu tidak pasti karena belum ada penelitian lebih rinci.

Menurut dokter spesialis kardiologi dan kardiovaskular dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr Hermawan, SpJP, Subsp Ar(K), bukan golongan darah yang menyebabkan seseorang terkena jantung koroner atau bahkan serangan jantung mendadak. Namun memang, ada mutasi genetik yang bisa memicu penyakit jenis kardiovakuler ini, seperti buruknya metabolisme lemak.

"Sejauh ini, tidak ada penelitian yang secara sah menyatakan bahwa golongan darah itu menyebabkan faktor risiko mayor terhadap penyakit jantung koroner. Mungkin yang berubah adalah mutasi genetik yang ada metabolisme lemaknya," katanya saat ditemui di Depok, Kamis (27/10/2022).

Perlu diketahui, faktor risiko jantung koroner terdiri dari dua jenis, yaitu faktor yang dapat diubah (modified risk factor) dan tidak dapat diubah (tradisional risk factor). Pertambahan usia dan seseorang dengan jenis kelamin pria tergolong tradisional risk factor, sedangkan modified risk factor umumnya berasal dari kemunculan penyakit kronis lain dan gaya hidup tidak sehat, misalnya pengidap diabetes, hipertensi, dan kecanduan merokok.

dr Hermawan juga mengatakan karakteristik metabolisme lemak atau kolesterol yang bersifat turun-temurun memungkinkan dianggap sebagai pemicu jantung koroner. Pengidap kolesterol tinggi sulit untuk diobati dengan beragam cara karena penyakit ini mendinasti dari riwayat kesehatan orang tua.

"Nah, karakteristik metabolisme lemak ini memang memengaruhi. Karena itu, di dalam literatur mengatakan bahwa banyak orang memiliki metabolisme lemak bersifat keturunan," pungkasnya

"Umpamanya seseorang mengalami metabolisme kolesterol tinggi, meski dia diobati seperti apa pun, karena sifatnya familial, sulit untuk turun," lanjutnya.

Akan tetapi, ia tidak menampik golongan darah dikategorikan sebagai surrogate marker. Artinya, faktor ini bisa dijadikan tanda pengganti akhir dalam uji medis, hanya saja keterkaitannya belum dapat dipastikan.

"Jadi bukan salah faktor heart diasese. Secara surrogate markernya dia bisa, tetapi tidak langsung," tegas dr Hermawan.



Simak Video "Waspadai Penyakit Jantung pada Anak!"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT