BPOM Singgung Kemendag soal Cemaran EG-DEG, Ada Apa?

ADVERTISEMENT

BPOM Singgung Kemendag soal Cemaran EG-DEG, Ada Apa?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Rabu, 02 Nov 2022 18:08 WIB
pelarut propilen glikol sumber cemaran EG-DEG
Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth
Jakarta -

Cemaran etilen glikol dalam sejumlah produk obat cair atau sirup diduga kuat menjadi pemicu ratusan kasus gagal ginjal akut pada anak di Indonesia. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menyinggung pihak Kementerian Perdagangan (Kemendag) terkait alasan produk-produk dengan cemaran berbahaya tersebut bisa masuk dan beredar di Indonesia.

Kepala BPOM RI Penny K Lukito menegaskan, pihaknya hanya bisa melakukan pemeriksaan pada bahan baku yang tergolong ke dalam pharmaceutical grade harus mendapatkan SKI (Surat Keterangan Impor) dari BPOM agar BPOM bisa melakukan pengawasan di awal.

Namun pada kasus ini, bahan pelarut di produk obat cair yakni propilen glikol dan polietilen glikol dengan cemaran etilen glikol tidak masuk melalui SKI BPOM, sehingga pihaknya tidak bisa melakukan pengawasan. Dalam kata lain, pengawasan tersebut tidak berada di ranah BPOM, melainkan Kemendag.

"Bahan baku aktif lainnya masuk melalui SKI BPOM. Namun khusus untuk pelarut propilen glikol dan polietilen glikol masuk tidak melalui SKI BPOM, tapi melalui Kementerian Perdagangan non larangan dan perbatasan (nonlartas). Jadi tidak melakukan Surat Keterangan impor dari BPOM," ungkap Penny dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI, Menteri Kesehatan RI, dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

"Artinya, BPOM tidak bisa melakukan pengawasan ke mutu dan keamanannya pada saat masuk ke Indonesia. Tetapi tentunya berbagai grade khusus yang pharmaceutical grade seharusnya bisa masuk ke SKI BPOM. Tapi sampai saat ini, peraturan itu belum ada," sambungnya.

Menurutnya, gap tersebutlah yang menjadi celah untuk sejumlah oknum memasukkan bahan terlarang dan memicu perubahan kandungan bahan baku pada produk obat cair.

"Selama ini masuk dan gap itulah yang dimanfaatkan oleh para penjahat yang memanfaatkan dan memang ada indikasi, kemudian dalam penelusuran kami bersama kepolisian untuk menelusur sampai ke pihak impor," beber Penny.

"Kemudian distributor dari bahan pelarut ini ke industri farmasi yang kami temukan telah melakukan pelanggaran, itu ada indikasi memang ada kesengajaan dalam penggunaan atau perubahan sumber bahan baku yang tidak dilaporkan," pungkasnya.



Simak Video "BPOM Cabut Izin Edar 69 Obat dari 3 Industri Farmasi"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT