Kenali Tanda-tanda Mata Juling pada Orang Dewasa dan Anak

ADVERTISEMENT

Kenali Tanda-tanda Mata Juling pada Orang Dewasa dan Anak

Fadilla Namira - detikHealth
Minggu, 13 Nov 2022 05:00 WIB
Asian, Indian young woman rubbing her eye and holding eyeglasses. She is suffering with aching eyes while working long hours on computer at home.
Ilustrasi (Foto: iStock)
Jakarta -

Mata juling bisa diidap oleh setiap saja, baik bayi baru lahir ataupun kelompok lanjut usia (lansia). Berdasarkan studi global pada 2021, prevalensi mata juling mencapai 1,93 persen atau setidaknya 148 juta orang.

Mata juling atau strabismus adalah kelainan saraf mata yang mengakibatkan posisi kedua bola mata tidak sejajar. Kondisi ini menyebabkan gangguan penglihatan dan ketidaknyamanan pada penampilan fisik sehingga berdampak pada sisi psikososial pengidapnya. Orang dewasa yang mengidap kondisi ini biasanya mengalami pandangan kabur dan berbayang.

"Mungkin kalau orang normal tidak menyadari matanya bekerja sama secara stimultan membentuk suatu bayangan persis di otaknya. Namun bagi orang dewasa yang juling, dia akan melihat double (dua)," ujar dr Gusti G Suardana, SpM(K), dokter spesialis mata konsultan dari Jakarta Eye Center Jakarta saat ditemui di Jakarta Barat, Sabtu (12/11/2022).

Pernyataan dr Gusti pun diperkuat oleh pengalaman salah pasien mata juling berusia 50 tahun. Sebelumnya, ia mengalami mata minus dengan nilai yang cukup tinggi. Kondisi matanya pun kian parah karena pekerjaan yang berat. Lambat laun, menyadari posisi kedua matanya tidak simetris.

"Mungkin karena saya minus tinggi otomatis saat berkegiatan padat mata jadi lelah. Karena itu, pandangan saya jadi dua Jadi, mata sebelah kanan saya semakin ke arah kanan dan kiri tetap lurus ke depan," katanya.

Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak biasanya mengalami mata malas. Mata malas atau ambliopia adalah bentuk bola mata yang tidak sejajar. Kondisi ini memicu kebingungan otak dalam menyatukan potongan bayangan benda yang ditangkap oleh mata.

"Kalau anak-anak tidak begitu. Mereka ada mekanisme namanya supresi. Bila mekanisme itu tidak terjadi, anak itu akan juling jadi repot. Karena adanya supresi sehingga anak menggunakan hanya satu mata dan mata lainnya akan menjadi mata malas," lanjut dr Gusti.

Oleh karena itu, mata anak harus dilatih sejak dini dengan menunjukan benda atau gambar yang terang supaya memperkuat fungsi matanya.

"Begitu anak lahir, penglihatannya tidak sama seperti kita orang dewasa. Penglihatannya masih rendah atau terang-gelap. Oleh karena itu, penglihatan harus distimulasi dengan memberikan cahaya, gambar, dan sebagainya," bebernya.



Simak Video "Berikut Kebiasaan yang Dapat Memicu Kanker"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/suc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT