Pakar Wanti-wanti Next Pandemi Bisa Muncul di Mana Saja, Termasuk di RI

ADVERTISEMENT

Pakar Wanti-wanti Next Pandemi Bisa Muncul di Mana Saja, Termasuk di RI

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Senin, 14 Nov 2022 15:56 WIB
Ilustrasi penyakit legionnaires
Ilustrasi penyakit/wabah baru. (Foto: Getty Images/iStockphoto/ktsimage)
Bali -

Director Global Health Diplomacy Christoph Benn, MD MPH dari Joep Lange Institute menyebut pandemi COVID-19 berikutnya bisa muncul di mana saja termasuk di Indonesia. Meski dipastikan terjadi, kemunculannya sangat sulit diprediksi.

Saat merebak di China, SARS-CoV-2 diyakini berpindah dari kelelawar ke manusia. Apakah ini menandakan risiko serupa bisa kembali muncul dari kelelawar?

"Tidak juga, kita benar-benar nggak bisa memprediksi virus dari hewan mana yang mungkin bisa menjadi pandemi selanjutnya. Misalnya HIV, itu berasal dari monyet, flu burung dari burung, PES dari tikus," kata dia saat ditemui detikcom di Hotel Conrad, Senin (14/11/2022).

Hal yang kemudian bisa dilakukan disebutnya adalah pencegahan. Pemerintah menurutnya perlu khawatir jika ada pola tidak biasa jika mendadak ada keluhan atau gejala penyakit yang 'membludak' di suatu daerah.

Itu bisa menjadi tanda awal kemunculan penyakit berisiko pandemi. Tentunya, surveilans dalam hal ini perlu ditingkatkan.

Seperti diketahui, berkaca pada COVID-19, minimnya surveilans masih dilaporkan di sejumlah daerah, khususnya di wilayah pelosok pelayanan kesehatan juga kerap terkendala sehingga pelaporan data kerap terabaikan.

Namun, menurut Christoph ada hal mudah yang sebetulnya bisa menjadi strategi awal. Pakar epidemiolog yang juga sudah berunjung ke lebih dari 30 provinsi di Indonesia ini menyarankan para petani misalnya, memanfaatkan smartphone mereka.

"Komunikasi risiko tidak selalu melalui layanan kesehatan primer, pertanian misalnya, memiliki ponsel dan aplikasi juga mereka bisa melaporkan peristiwa tidak biasa, petani yang punya babi, kambing, burung atau ayam, mereka bisa observasi melakukan pengamatan," lanjut dia.

"Mereka lihat misalnya banyak ayam mendadak mati, atau banyak laporan kasus meninggal di komunitasnya, jadi kita tidak melakukan pelaporan di pusat kesehatan, kita tapi sistem yang dari ponsel, petani, petugas kesehatan, guru, petani, dan pemerintah daerah bisa terlibat," sebutnya.

Lihat juga Video: Jokowi: Negara G20 Sepakat Bentuk Dana Pandemi

[Gambas:Video 20detik]




(naf/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT