Begini Proses Healing Ala Melukat, Tradisi Bali untuk Tentramkan Jiwa

ADVERTISEMENT

Begini Proses Healing Ala Melukat, Tradisi Bali untuk Tentramkan Jiwa

Vidya Pinandhita - detikHealth
Kamis, 17 Nov 2022 08:05 WIB
Melukat di Tri Desna, Ubud, Bali.
Mengenal prosesi Melukat ala Bali, dipercaya membantu pelepasan trauma. Foto: Vidya Pinandhita/detikHealth
Jakarta -

Prosesi 'melukat' ala Bali dipercaya bisa memulihkan seseorang dari trauma. Menggunakan basuhan air yang telah didoakan dan diberi bunga-bungaan, trauma yang tersimpan di dalam tubuh akan terbuang bersama aliran air. Memangnya, seperti apa efek luka trauma terhadap kondisi fisik?

Dewi Ayu Sri Agung, atau yang biasa disapa sebagai ibu 'Desak Akeno' adalah seorang 'sang pembantu penyembuhan' yang memberikan prosedur melukat untuk orang-orang yang menginginkan di Bali. Ia menjelaskan, trauma umumnya tersimpan di punggung bagian bawah. Seiring prosesi melukat, ia akan mendorong bagian tubuh ini secara perlahan, ibarat membantu seseorang mengeluarkan trauma yang lama mengendap.

"Kalau di sini memang saya akan tekan dari bawah (punggung). Coba saya rasakan. Kalau sedih kamu biasanya seperti apa? Jarang melepaskan, lebih banyak menariknya. Satu tarikan napas kesedihan, tersimpan di punggung bagian bawah. Tarik lagi masalah, pasti kita tarik napas menahan masalah. Berapa banyak itu terkumpul sudah bertahun-tahun," ungkapnya saat ditemui detikcom di Ubud, Bali, beberapa waktu lalu.

"Melepaskan itu bagaimana caranya? Saya dorong pakai kekuatan cinta kasih sayang, suruhlah energi negatif keluar. (Seperti) ayo keluar, sayang. Sudah saatnya kamu keluar. Sudah lama sekali (tersimpan). Seperti membongkar gudang. Kalau mengeluarkan barang-barang dari gudang kan pintunya harus dibuka. Pintunya dibuka dari mulut," sambung Desak.

Praktisi melukat di Bali, Dewi Ayu Sri Agung, atau yang biasa disapa sebagai ibu 'Desak Akeno'.Praktisi melukat di Bali, Dewi Ayu Sri Agung atau yang biasa disapa sebagai ibu 'Desak Akeno'. Foto: Vidya Pinandhita/detikHealth

Ia juga menjelaskan, klien yang menjalani prosesi melukat dipersilakan teriak. Sebab dengan cara itulah, seseorang bisa membuang trauma yang lama tersimpan. Jika ditahan, dorongan justru akan berbalik ke Desak dan membuatnya muntah.

"Apa barang yang rongsokan dalam diri itu buang. Jadi saya bilang jangan malu berteriak, jangan malu histeris. Karena itu cara saya, setiap orang caranya bisa berbeda," jelas Desak.

"(Kalau ditahan) saya yang kena. Saya kan antara mendorong dan menarik. Kalau ditarik, saya yang muntah. Ini susah dikatakan secara logika. Energi," imbuhnya.

Psikolog: Trauma Meninggalkan 'Jejak' di Badan

Dilihat dari perspektif psikologi, psikolog klinis dari Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia Annelia Sari Sani menyampaikan hal senada. Ia menyebut, terdapat riset yang menguak bahwa trauma bisa meninggalkan 'jejak' pada tubuh seseorang. Selain berimbas pada fisik, trauma tersebut juga berisiko menurun ke keluarga.

"Trauma yang sifatnya menimbulkan kemarahan itu biasanya ada di sistem dermatitis, jadi kalau orang mengalami trauma atau ada trauma keturunan, trauma warisan (atau) keluarga yang sifatnya mempermalukan keluarga, biasanya lebih rentan secara kulitnya. Gampang mengalami dermatitis, eksim. Jejaknya banyak sekali," jelas Anne.

NEXT: Efek Trauma Tak Kunjung Sembuh, Ngefek ke Badan



Simak Video "Anita Tanjung Beri Trauma Healing Anak-anak Korban Gempa Cianjur"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT