Kematian COVID RI Melonjak 8 Kali Lipat, Ini Wanti-wanti Eks Petinggi WHO!

ADVERTISEMENT

Kematian COVID RI Melonjak 8 Kali Lipat, Ini Wanti-wanti Eks Petinggi WHO!

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Rabu, 23 Nov 2022 15:00 WIB
Jubir Kemenkes Mohammad Syahril menyebutkan bahwa XBB maupun BQ.1 menyumbang lebih dari 20 persen penambahan kasus baru di Indonesia.
COVID-19 di Indonesia. (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Eks Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama menyoroti angka kematian COVID-19 yang melonjak ketimbang awal Oktober 2022. Kenaikan dilaporkan seiring dengan temuan kasus subvarian Omicron XBB dan BQ.1, keduanya mulai mendominasi 60 persen dari total kasus harian COVID-19.

Misalnya, jika kasus kematian COVID-19 per Selasa (22/11/2022) sebanyak 51 jiwa, kenaikan ini dilaporkan sudah melonjak delapan kali lipat dari sebelumnya per 8 Oktober 2022 yakni enam kasus. Angka tersebut didapatkan dari total 7.644 kasus baru COVID-19 yang menurut Prof Tjandra perbandingannya cukup tinggi.

"51/7.644, atau 0,66 persen. Perbandingan seperti ini tidak terjadi di negara lain," sebut dia dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom Rabu (23/11/2022).

Prof Tjandra membandingkan tren penambahan kasus kematian di Indonesia dengan negara lain seperti Singapura. Saat puncak kasus, dilaporkan lima orang meninggal dari 11.934 kasus baru, angkanya sekitar 0,04 persen. Angka kematian jauh lebih rendah juga dilaporkan di Korea Selatan.

Negara itu mencatat kasus harian hingga lima belas kali lipat dari Indonesia, yakni 107.702 kasus per 16 November 2022 dengan laporan kematian 140 orang. Namun, persentasenya masih relatif lebih rendah dari angka kematian di Tanah Air yakni 0,12 persen.

"Jadi jelas persentase kematian di negara kita lebih tinggi dari negara tetangga. Di kita jumlah yang meninggal yang sudah lebih 50 orang, dan persentasenya lebih tinggi dari negara tetangga. Padahal kita tahu bahwa XBB ini adalah bagian dari Omicron juga yang harusnya tidaklah terlalu berat," bebernya.

"Tetapi entah kenapa di kita menimbulkan angka kematian naik cukup tinggi. Ini harus diantisipasi segera," pesan dia.



Simak Video "Kabar Baik! Kematian Covid-19 Catat Rekor Terendah Sejak Awal Pandemi"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT