4 Negara Asia Ini Terancam Krisis Populasi Imbas Resesi Seks

ADVERTISEMENT

4 Negara Asia Ini Terancam Krisis Populasi Imbas Resesi Seks

Alethea Pricila - detikHealth
Minggu, 27 Nov 2022 05:30 WIB
Visitors wearing face masks to help curb the spread of the coronavirus walk under a canopy of cherry blossoms in full bloom in Seoul, South Korea, Sunday, April 10, 2022. (AP Photo/Lee Jin-man)
Korea Selatan menjadi salah satu negara yang terancam resesi seks (Foto: AP/Lee Jin-man)
Jakarta -

Semakin hari, semakin banyak negara yang mengalami penurunan populasi karena warganya menolak untuk mempunyai keturunan. Resesi seks mengacu kepada risiko krisis demografis karena banyak wanita yang berhenti melahirkan.

Kondisi ini tidak hanya terjadi di satu atau dua negara tetapi beberapa negara besar di dunia. Lantas di mana saja negara yang mengalami penurunan populasi? Berikut daftar negara yang dihantui 'resesi seks'.

1. Korea Selatan

Pada 2021, berdasarkan data pemerintah Korea Selatan mencatat tingkat kesuburan hanya 0,81 persen. Padahal idealnya satu negara harus memiliki tingkat kesuburan 2,1 persen untuk menjaga populasi. Tak hanya itu, di Negeri Ginseng tersebut kini makin banyak anak muda yang tak mau menikah. Para wanita yang sudah menikah juga memilih untuk tidak hamil.

Tidak ada angka resmi mengenai berapa banyak warga Korea Selatan yang memilih untuk tidak menikah atau memiliki anak. Namun berdasarkan dari badan statistik nasional menunjukkan 2020 terjadi sekitar 193 ribu pernikahan di negara tersebut. Angka ini mengalami penurunan dari pada 1996 yang saat itu mencapai 430 ribu. Data itu juga menunjukkan bahwa tahun lalu bayi lahir sekitar 260.600, sementara puncak kelahiran di negara tersebut mencapai 1 juta pada 1971.

"Singkatnya, orang mengira negara kita bukanlah tempat yang mudah untuk ditinggali," kata Lee So-Young, pakar kebijakan kependudukan di Institut Korea untuk Urusan Kesehatan dan Sosial di Korea Selatan.

"Mereka percaya anak-anak mereka tidak dapat memiliki kehidupan yang lebih baik daripada mereka, jadi mempertanyakan mengapa mereka harus bersusah payah untuk memiliki bayi," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT