Apa Itu Resesi Seks? Biang Kerok Kelahiran Korea Selatan Merosot Tajam

ADVERTISEMENT

Apa Itu Resesi Seks? Biang Kerok Kelahiran Korea Selatan Merosot Tajam

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Senin, 28 Nov 2022 11:36 WIB
Visitors wearing face masks to help curb the spread of the coronavirus walk under a canopy of cherry blossoms in full bloom in Seoul, South Korea, Sunday, April 10, 2022. (AP Photo/Lee Jin-man)
Apa itu resesi seks? (Foto: AP/Lee Jin-man)
Jakarta -

Apa itu resesi seks? Sejumlah negara, termasuk Korea Selatan mengalami kondisi tersebut. Hal inilah yang memicu negara tersebut mengalami krisis demografis lantaran banyak wanita yang berhenti melahirkan.

Dikutip dari AFP News, negeri Ginseng ini hanya mencatat tingkat kesuburan 0,81 persen pada 2021 berdasarkan data pemerintah. Idealnya, satu negara harus memiliki tingkat kesuburan 2,1 persen untuk menjaga populasi.

Tidak ada angka resmi berapa banyak warga Korea Selatan yang memilih untuk tidak menikah atau memiliki anak. Namun catatan dari badan statistik nasional menunjukkan ada sekitar 193 ribu pernikahan di Korea Selatan tahun lalu, turun dari puncaknya 430 ribu pada tahun 1996. Data badan tersebut juga menunjukkan sekitar 260.600 bayi lahir di Korea Selatan tahun lalu, sementara puncak kelahiran di negara tersebut mencapai 1 juta pada tahun 1971.

Berbicara tentang itu, lantas apa yang dimaksud dengan resesi seks? Simak penjelasannya berikut ini.

Apa Itu Resesi Seks?

Dikutip dari jurnal The Atlantic, istilah 'resesi seks' merujuk pada penurunan rata-rata jumlah aktivitas seksual yang dialami suatu negara sehingga mempengaruhi tingkat kelahiran yang rendah.

Penyebab Resesi Seks

Adapun fenomena ini umumnya bisa terjadi akibat sejumlah faktor, di antaranya:

Menemukan 'Kesenangan' dengan Cara Lain

Dari tahun 1992 hingga 1994, jumlah pria di Amerika melaporkan masturbasi dalam minggu tertentu meningkat dua kali lipat, menjadi 54 persen. Begitu juga jumlah wanita meningkat lebih dari tiga kali lipat, menjadi 26 persen.

Selain di Amerika hingga Korea Selatan, artikel Economist baru-baru ini mengungkapkan kaum muda di Jepang memandang seks sebagai mendokusai atau "melelahkan". Karenanya, mereka lebih sering mengunjungi toko onakura untuk masturbasi di depan karyawan wanita.

Selain itu, adanya kemudahan untuk mengakses internet, seseorang lebih mudah untuk mengakses pornografi yang kemungkinan berkontribusi pada lonjakan masturbasi dengan perluasan resesi seks.

Seks Menyakitkan

Penyebab resesi seks berikutnya adalah seks yang menyakitkan. Menurut sebuah penelitian pada 2012 oleh Debby Herbenick, seorang peneliti seks di University of Indiana di Bloomington, sebanyak 30 persen wanita mengalami rasa sakit terakhir kali mereka melakukan hubungan seks.

Permasalahan Ekonomi

Ahli epidemiologi Swedia Peter Ueda dan rekannya menganalisis data Amerika Serikat dari 4.291 pria dan 5.213 wanita, menemukan bahwa antara tahun 2000 hingga 2018, tidak aktifnya seksual meningkat di antara pria berusia 18 hingga 24 tahun dan 25 hingga 34 tahun. Sedangkan wanita berusia 25 sampai 34 tahun.

Pria dengan pendapatan lebih rendah atau tanpa pekerjaan lebih cenderung tidak aktif secara seksual, seperti juga pria dan wanita yang masih pelajar. Sebab, masih banyak anak muda yang tinggal bersama orang tua mereka karena tidak memiliki pekerjaan, sehingga membuat mereka sulit menemukan pasangan.

Tingkat Pernikahan yang Sedikit

Psikolog Universitas Negeri San Diego Jean Twenge, mengungkapkan penyebab lainnya dari fenomena 'resesi seks' adalah tingkat pernikahan yang menurun. Mereka yang menikah umumnya melaporkan lebih banyak aktivitas seksual daripada mereka yang tidak menikah. Saat ini, lebih sedikit anak muda yang menikah atau berpasangan, dan karenanya lebih sedikit yang berhubungan seks.

Stres Kerja dan Kelelahan

Sebuah studi tahun 2010 oleh Guy Bodenmann dan rekannya menemukan bahwa stres kerja dan kelelahan juga kemungkinan penyebabnya. Orang-orang bekerja selama hari-hari yang panjang dan berat, pada akhirnya mereka terlalu lelah untuk mendapatkan mood.

"Stres yang dilaporkan sendiri lebih tinggi dalam kehidupan sehari-hari dikaitkan dengan tingkat aktivitas dan kepuasan seksual yang lebih rendah dan penurunan kepuasan hubungan," demikian bunyi studi tersebut.



Simak Video "Populasi Menurun dalam 60 Tahun, Generasi Muda China Enggan Berkeluarga"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT